Page 29 - Supernova 4, Partikel
P. 29

Di dekat meja makan, sayup kudengar Abah berbicara dengan Bidan Ida dengan nada
        rendah.

          “Apa pun yang terjadi, besok kita kuburkan saja.”

          “Dia  masih  bernapas,  Bah.  Walaupun  sudah  makin  susah.  Susunya  juga  nggak  bisa
        masuk lagi.”

          Abah geleng-geleng kepala. “Kasihan Aisyah. Lebih cepat bayi itu mati, lebih baik.”

          Hatiku  mengkeret  seketika.  Mereka  menginginkan  Adek  mati.  Apa  yang  bisa

        kulakukan?  Sambil  memeluk  Hara  yang  tengah  bermain  boneka  di  pangkuanku,  aku
        berpikir keras sampai seluruh badanku kencang dan rasanya linu-linu. Mataku basah lagi.

          Pukul  9.00  malam,  pintu  depan  terbuka.  Ayah  pulang.  Tanpa  bisa  menahan  diri,  aku
        berlari memeluknya.

          Dengan cepat, Ayah melepaskan tanganku. Barulah aku tersadar betapa kotornya Ayah.
        Pipinya  kusam  oleh  jejak  tanah,  bajunya  lusuh  dan  kusut,  di  tangannya  terdapat  baret-
        baret luka. Wajahnya yang panik bersimbah peluh.

          Ayah segera menghambur masuk ke kamar.

          Aku menempelkan kupingku di pintu. Kudengar Ibu menangis lagi. Bu Yati dan Bidan
        Ida berdoa lagi. Tak kudengar suara Ayah. Sedikit pun.


          Hampir setengah jam Ayah di dalam sana sampai akhirnya ia keluar, disusul Bidan Ida.

          Kulihat Bidan Ida menatap Abah, lalu perlahan menggelengkan kepala.

          Abah pun berucap, “Innalillahi wainnailaihi rajiun.”

          Satu  ruangan  seketika  berucap  sama.  Ibu-ibu  menangis.  Termasuk  Umi.  Namun  jelas
        kutangkap, Umi dan Abah tampak lega meski wajah mereka berhiaskan air mata. Hanya
        ekspresi Ayah yang tak bisa kubaca.

          Atas instruksi Abah, Adek dimakamkan malam itu juga. Orang-orang kampung tambah
        kasak-kusuk.  Pemakaman  malam  hari  itu  makruh  hukumnya.  Kenapa  Abah  Hamid
        bersikeras? Ada apa sebenarnya? Tapi, keseganan mereka kepada Abah membungkam

        semua tanya.

          Itulah  kali  terakhir  aku  melihat  Adek,  saat  jenazahnya  digotong  keluar  seperti  guling
        putih kecil. Tak ada celah yang menunjukkan wajahnya.

          Di belakang rumah Abah di Batu Luhur, sebuah lubang kecil digali. Kuburan yang digali
        malam-malam seperti korban pembunuhan. Di sana adikku ditutup hamparan tanah tanpa
        nisan.

          Abah  tak  pernah  mengantisipasi,  seberapa  dalam  pun  ia  berusaha  menguburnya,
        bayangan Adek tetap menghantui kami semua. Mengubah hidup kami dan Kampung Batu

        Luhur dengan 24 jam kehadirannya.

                                                                                                               6.

        Bagai  fungi  yang  mengunyah  pelan-pelan  bebatuan  menjadi  tanah,  peristiwa  lahirnya
   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34