Page 30 - Supernova 4, Partikel
P. 30

Adek pelan-pelan mencerna keluarga kami. Menyulap semua yang tadinya solid menjadi
        rapuh dan remah.

          Dari  liang  kuburnya,  Adek  tak  tinggal  diam.  Kendati  ia  mati  terbungkus  kain  yang
        dibebat rapat, isu tentang dirinya, bentuknya, dan penyebab di baliknya telah berkembang
        dan membesar di luar kendali kami.

          Aisyah melahirkan anak setengah ular. Anak itulah tumbal Bukit Jambul yang tertunda.

        Seharusnya  tumbal  itu  Firas,  tapi  akhirnya  berpindah  ke  generasi  berikutnya.  Abah
        Hamid  dikutuk  tidak  bisa  lagi  punya  garis  keturunan  laki-laki.  Versi  lain  mengatakan,
        Firas sudah punya istri jin di Bukit Jambul. Makanya ia jadi jarang pulang. Kandungan
        Aisyah “dikerjai” oleh istri jin-nya Firas yang cemburu.

          Itu hanya sebagian yang sampai ke kuping kami, yang kemungkinan besar hanya puncak
        dari gunung es yang sesungguhnya.

          Meski  orang  Batu  Luhur  masih  menaruh  segan  kepada  Ayah  dan  tetap  menyambut
        kehadirannya  dengan  sopan  santun,  jelas  terasa  hadirnya  jurang  pemisah  yang  kian

        merenggang antara mereka. Hubungan Ayah dengan para pemimpin desa dan para petani
        berubah menjadi seperlunya.

          Ayah  dan  Ibu  makin  jarang  bicara.  Mereka  masih  berbasa-basi  “selamat  pagi-sore-
        malam”  dan  bertanya  yang  penting-penting,  tapi  tak  pernah  lagi  mengobrol  lama
        berduaan.  Ayah  melarikan  diri  dengan  sibuk  di  kebun  fungi  dan  jadi  mentorku.  Ibu
        menenggelamkan  diri  dalam  rutinitas  sosialnya  dan  mengurus  satu-satunya  anak  yang
        masih bisa ia pegang, Hara. Kami berempat terpecah menjadi dua unit dan hidup dalam

        dua kutub yang berbeda.

          Karier Ayah juga tidak selamat. Ibu menemukan tiga surat peringatan yang dilayangkan
        ke  rumah.  Ternyata,  Ayah  sudah  lama  menghilang  dari  kegiatan  belajar-mengajar  di
        kampus.  Dari  teman-temannya  yang  istri  dosen,  Ibu  mengetahui  Ayah  beberapa  kali
        bentrok dengan pihak IPB. Beredar isu bahwa Ayah akan disingkirkan karena perbedaan
        paham  tersebut.  Mereka  hanya  menunggu  Ayah  berbuat  kesalahan.  Melihat  parahnya
        absen Ayah dari ruang kelas, sepertinya keinginan pihak kampus akan terwujud dengan

        mudah.

          “Ayah sekarang cuma mau mengajar kamu saja, Zarah. Nggak mau lagi Ayah mengajar
        di kampus,” jawabnya ketika aku bertanya mengapa ia tidak pernah ke IPB lagi. “Di sana
        nggak ada orang yang bisa mengerti Ayah,” sambungnya.

          Dari dalam tas terpalnya yang seperti barang eks militer dipakai gerilya bertahun-tahun,
        ia menunjukkan tumpukan surat yang akan diposkannya. “Ini surat-surat untuk dikirim ke

        luar negeri. Ayah mau minta dana supaya laboratorium fungi kita bisa berdiri.” Ayah lalu
        meletakkan  tumpukan  surat  itu  di  pangkuanku,  “Ayo,  Zarah,  ciumi  satu-satu.  Kamu
        pembawa keberuntungan Ayah.”

          Dengan semangat aku mengecupi semua surat itu. Tak ada yang terlewat.

          Beberapa  bulan  kemudian,  mobil  tua  kami  lenyap.  Ayah  lantas  berjanji  akan
        mengantarkanku  ke  mana  saja  dengan  sepedanya.  Setelah  itu,  televisi  kami  menyusul
   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35