Page 31 - Supernova 4, Partikel
P. 31

pergi. Ayah bilang, itu demi kebaikan aku dan Hara. Jauh lebih baik kalau kami dibacakan
        dongeng,  atau  dibawa  tamasya  ke  Kebun  Raya.  Ibu  cuma  diam.  Rumah  kecil  kami
        semakin senyap.

          Meja  makan  kami  melengang.  Tidak  ada  lagi  paha  ayam  goreng  tepung  kesukaanku.
        Lagi-lagi,  hanya  oseng-oseng  tempe,  oseng-oseng  tahu,  oseng-oseng  jamur.  Semuanya
        oseng-oseng. Aku kehilangan jatah dua gelas susuku. Hanya Hara yang masih kebagian.


          “Ayah  bilang,  nanti  Ibu  membuatkan  susu  dari  kedelai,  ya?  Spesial  untukku.  Lebih
        sehat,” kataku kepada Ibu. Mataku tak berkedip menatap Hara yang menenggak susunya
        dengan nikmat.

          “Susu kedelai itu enak ya, Bu? Ada yang rasa stroberi? Atau cuma putih doang?” aku
        bertanya membabi-buta. Liurku menitik melihat jejak susu berbentuk kumis di atas bibir
        Hara.

          Ibu  cuma  diam,  mencerling  ke  arah  Ayah  dengan  pandangan  yang  membuatku  tidak
        nyaman.


          Entah  berapa  lama  hingga  aku  akhirnya  menyadari  mereka  tidak  tidur  sekamar  lagi.
        Kalau aku kebelet pipis di tengah malam, selalu kutemukan Ayah meringkuk tidur di sofa.
        Kata Ayah, Ibu sering pusing dan baru sembuh kalau ditinggalkan sendirian. Mereka lupa,
        umurku sudah sebelas tahun. Sesuatu telah terjadi, dan aku tahu itu.

          Hari demi hari, segitiga eksistensi Ayah tergerogoti dengan pasti. Rumah kami, kampus,
        Batu Luhur, meluruh perlahan-lahan dari genggamannya.

          Setahun lewat. Surat-surat Ayah masih belum dapat balasan. Setiap malam sepanjang
        tahun, aku berdoa dengan gelisah, kadang-kadang sampai berkeringat. Aku sangat takut

        aku  bukan  pembawa  keberuntungannya.  Semua  surat  itu  sudah  kuberi  kecupan.
        Bagaimana kalau ternyata aku ini justru pembawa sial? Bagaimana kalau ternyata akulah
        titik lemah dari kedewaannya? Seorang dewa tidak seharusnya menikahi manusia biasa
        karena  akan  menghasilkan  anak-anak  seperti  aku.  Doa  anak  blasteran  pasti  susah
        menembus Kerajaan Dewa.





        Sebagai satu-satunya pemuja yang tersisa, yang masih menganggap segala titahnya adalah
        titah  dewa,  Ayah  memperlakukanku  dengan  istimewa.  Habis-habisan  ia  menghiburku
        seharian  penuh.  Kebun  pribadinya  di  Batu  Luhur,  Kebun  Raya  Bogor,  tepi  Sungai
        Ciliwung,  adalah  ruang-ruang  kelas  tempat  kami  belajar,  menggambar,  membaca,  dan
        berhitung.  Sampai  aku  lupa  bahwa  aku  berbeda  dengan  anak  lain  yang  punya  televisi,
        punya mainan, dan bersekolah.


          Gesekan kutub antara Ayah dan Ibu menjadi makanan kami sehari-hari. Sering kudengar
        Ayah beradu argumen dengan Ibu, terutama tentang sekolah. Ayah berusaha meyakinkan
        Ibu  bahwa  sistem  pendidikan  swalayan  dari  rumah  yang  ia  lakukan  kepadaku  sudah
        berkecukupan, bahkan jauh lebih baik ketimbang sistem sekolah biasa. Ibu menudingnya
        gila karena menjadikan anak sendiri sebagai kelinci percobaan. Ayah membalas, lebih gila
        lagi orang yang menjadikan anak orang sebagai kelinci percobaan dari sistem yang sudah
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36