Page 32 - Supernova 4, Partikel
P. 32

ketahuan  tidak  menghasilkan  apa-apa  selain  robot  penghafal.  Mereka  bisa  bertengkar
        tentang itu hampir setiap hari.

          Saat kami berdua, Ayah berkata setengah berbisik, “Ibumu bukan orang bodoh, Zarah. Ia
        hanya belum terjaga.” Tidak kupahami benar apa maksudnya.

          Dengan uangnya yang terbatas, Ayah membeli Polaroid bekas supaya aku punya kerjaan,
        menginstruksikan kepadaku apa saja yang harus difoto, dan memanggilku si Mata Ketiga.

        Kupikir, sepasang mata Ayah adalah mata yang pertama dan kedua, dan karena aku masih
        anak  kecil,  kedua  mataku  dianggap  jadi  satu.  Kira-kira  seperti  tiket  anak,  begitu.  Dan,
        jadilah aku mata ketiganya.

          Berbekal kantong belacu yang kukalungkan di leher, aku membuntutinya ke mana-mana
        seperti  anak  bebek,  memotret  setiap  pesanannya  dengan  sungguh-sungguh,  menggosok
        dan mengipas-ngipas foto sampai kering untuk kemudian kukumpulkan di dalam tas.

          Sesampainya di rumah, sebelum kembali sibuk dengan urusannya, Ayah menyempatkan
        diri untuk mengamati setiap fotoku, dan ia kerap berkata, “Kamu punya mata yang baik,

        Zarah. Mata yang tidak sombong. Ayah janji, suatu hari nanti akan membelikanmu kamera
        sungguhan.”

          “Kapan, Yah? Kapan?” desakku semangat.

          “Nanti kalau kamu sudah tujuh belas tahun,” cetusnya enteng.

          Ayah  tidak  banyak  berjanji  dalam  hidupnya.  Aku  tahu,  ia  pasti  akan  menepati  kata-
        katanya.




        Pertengkaran Ayah dan Ibu tentang sekolah memuncak pada suatu malam di meja makan.

        Waktu  itu,  Ibu  sepertinya  benar-benar  marah.  Ia  tak  lagi  mampu  menekan  volume
        suaranya, seperti yang biasa ia lakukan jika anak-anaknya menontoni mereka ribut.

          “Kalau memang alasanmu adalah uang, Abah dan Umi mau membiayai sekolah anak-
        anak kita. Jangan sampai gara-gara kamu yang hancur, anak-anak kita jadi korban,” ucap
        Ibu.

          “Justru aku sedang berusaha menyelamatkan mereka, Aisyah!”

          “Setiap  sekolah  itu  punya  sistem.  Punyamu  mana?”  Ibu  menyerang  sambil  berkacak
        pinggang. Suaranya yang serak basah semakin sember jika sedang naik darah, padahal Ibu

        bukan perokok. Suara serak alaminya itu terwariskan padaku.

          “Aku selalu menguji dan mengevaluasi Zarah. Ini ada rapornya.” Ke atas meja makan,
        Ayah menghantamkan sebuah buku tulis lecek, menunjukkan isi halaman-halaman yang
        penuh tulisan tangan, diagram, tabel, dan sketsa.

          Ibu melirik isi buku itu dan tentunya meragu. “Tidak ada rapor sekolah di dunia dengan
        bentuk dan isi kayak gitu. Nggak ngerti aku!” bentaknya lagi.

          “Makanya, kalau nggak ngerti jangan protes,” balas Ayah sengit. “Zarah siap diuji di
        sekolah  mana  saja  dan  saya  yakin  dia  lebih  pintar  daripada  guru-gurunya,”  tandasnya
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37