Page 33 - Supernova 4, Partikel
P. 33

dengan percaya diri.

          Bola mataku beralih dari kiri-kanan seperti menonton pertandingan pingpong. Sungguh
        aku tak mengerti kenapa perihal sekolah dan tak sekolah ini begitu dipermasalahkan. Aku
        bahkan tidak tahu Ayah menyimpan rapor, atau mungkin itu hanya akal-akalannya saja
        untuk mengelabui Ibu.

          Setiap hari aku dan Ayah selalu belajar sesuatu. Sekolah atau bukan namanya, aku tak

        peduli. Secara berkala Ayah menguji atau menantangku, tapi apakah aku lebih baik atau
        tidak daripada anak lain, aku juga tak peduli. Duniaku hanya aku dan dia.

          “Zarah,  kamu  sudah  diuji  apa  saja  sama  ayahmu?”  Tiba-tiba  Ibu  bertanya  langsung
        kepadaku yang sejak tadi cuma menonton.

          Aku tak siap. Ayah tak siap.

          Mulutku membuka. Tapi, hanya bebunyian gagap yang keluar.

          “Ayo. Buktikan  sama  Ibu  kalau  kamu  betulan  lebih  pintar  daripada  anak-anak  lain,”
        tantang Ibu. Ia menarik kursi, duduk bersandar memandangi kami berdua. Kegugupanku
        dan  Ayah  tampak  membuatnya  semakin  yakin  bahwa  ocehan  Ayah  tadi  hanyalah

        kompensasi dosen pengangguran yang ditolak oleh satu dunia.

          Masih kuingat jelas ekspresi Ibu di meja makan malam itu, menantikan jawaban. Masih
        kuingat jelas raut tegang Ayah yang menebak-nebak apa sekiranya yang bakal kukatakan.

          Kuambil  kantong  belacuku.  Setumpuk  kertas  penuh  coretan  kutebarkan  di  meja.  “Ibu
        mau pilih yang mana?”

          Ragu, Ibu melihat kertas-kertas lecek itu, berisi gambar-gambar yang mungkin tidak ia
        kenali.  Tapi,  akhirnya  Ibu  memilih  satu.  Gambar  anatomi  otak  manusia  yang
        keterangannya sudah ditiadakan oleh Ayah, hanya tinggal panah penunjuk dan angka.


          Lalu, aku mengeluarkan setumpuk kertas berikut, yang dijepit di ujungnya. Kutunjukkan
        selembar  halaman  kepada  Ibu.  “Ini  kunci  jawaban  dari  gambar  yang  tadi  Ibu  pilih.
        Sekarang,  Ibu  bisa  uji  Zarah.  Tunjuk  saja  angka-angka  di  gambar  itu,  terserah  yang
        mana.”

          Di hadapan Ibu, kini ada dua helai kertas yang berpasangan. Pertanyaan dan jawaban. Ia
        menarik  lembar  jawaban  ke  pangkuannya  agar  tak  lagi  terbaca  olehku.  Mulailah  ia
        menunjuk bagian demi bagian.

          “Nomor 1. Apa namanya?”


          Tanpa tersendat aku menjawab, “Carpus callosum.”
          “Nomor 5?”


          “Substantia nigra.”

          “Nomor 8?”

          “Locus coeruleus.”

          Tak kurang dua puluh bagian yang diuji Ibu, tapi ia belum puas. Dicarinya lagi lembar
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38