Page 34 - Supernova 4, Partikel
P. 34

lain. Ibu memilih anatomi kulit.

          “3a?”

          “Stratum spinosum.”

          “3b?”

          “Stratum basale.”

          “7?”

          “Dermal papila.”

          Ibu mengambil lagi lembar lain. Anatomi mata.

          “16?”

          “Reticulum trabeculare.”

          “5?”

          “Sclera.”


          Ibu menatapku dan Ayah. Meradang. “Kamu cuma belajar yang beginian, apa? Mana
        Matematikanya? Mana Bahasa Indonesia? PMP? Agama?”

          Aku dan Ayah berpandangan.

          “Bu, yang Zarah bawa ini memang cuma gambar-gambar anatomi. Belum diagram untuk
        fungsi-fungsinya. Dan, ini baru yang manusia. Masih ada binatang, masih ada tumbuhan.
        Nah, itu baru Biologi. Matematika, karena bukan hafalan, Zarah nggak simpan catatan.
        Zarah sama Ayah langsung latihan di kertas atau di papan. Untuk Bahasa Indonesia, kami
        baca buku. Bahasa Inggris juga sama. Kalau PMP….” Aku melirik Ayah. “PMP itu apa,

        Yah?”

          Ayah gelagapan.

          “PMP  saja  nggak  tahu,  apalagi  Agama,”  potong  Ibu  sengit.  “Shalat  saja  kamu  nggak
        becus,  Zarah.  Ibu  malu  sama  Abah,  sama  Umi.  Cucu-cucunya  nggak  ada  yang  beres,”
        tukasnya lagi. “Mulai besok, Ibu panggil Bu Hasanah untuk mengajari kamu ngaji. Kalau
        perlu, Ibu daftarkan kamu ke pesantren.”

          “Nggak mau.”

          “Kenapa nggak mau?”

          “Zarah cuma mau diajar sama Ayah.”


          “Tahu apa ayahmu soal agama? Dia itu musyrik! Ateis!” Ibu membentak.
          “Aisyah!” Ayah balas menyentak.


          “Sejak kesurupan setahun yang lalu, kamu berubah jauh, Firas. Aku tahu kamu dari dulu
        cinta sama ilmu, tapi sekarang kamu itu sudah syirik. Makanya kamu pengangguran, kita
        jadi miskin, semua gara-gara kamu lupa sama Allah.”

          “Siapa yang ngomong begitu? Abah? Umi? Tahu apa mereka tentang aku? Bisanya dari
   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39