Page 35 - Supernova 4, Partikel
P. 35

dulu  hanya  kritik,  padahal  cuma  lihat  dari  jauh,  diajak  ngobrol  saja  nggak  mau.
        Bagaimana aku bisa menjelaskan diriku?”

          “Apa lagi yang perlu dijelaskan? Memang kamu aneh! Aku istrimu saja nggak pernah
        bisa ngerti!”

          Ayah terdiam. Wajahnya tampak putus asa. Aku rasa ia hampir menangis. “Kamu belum
        pernah  mendengarkan  aku  sungguh-sungguh,  Aisyah.  Sekali  saja.  Kamu  tidak  pernah

        mau.”

          Ibu tak lagi membalas. Ia pun tiba pada titik putus asa. Dirapikannya kertas-kertas di
        meja, lalu Ibu masuk ke kamar tidur dan tak keluar lagi.

          Ayah  hanya  menggenggam  tanganku  sejenak,  lalu  pergi.  Tak  lama,  sayup  kudengar
        suaranya membacakan buku bagi Hara.

          Dalam  benakku,  ada  satu  kantong  belacu.  Berisi  kumpulan  pertanyaan  yang  belum
        menemukan pasangannya. Dari hari ke hari, kantong itu semakin penuh. Terutama malam
        ini.  Otakku  merunut:  “musyrik”,  “ateis”,  “syirik”,  “kesurupan  setahun  yang  lalu”.

        Pertanyaan-pertanyaan baru.

          Di  meja  makan  itu,  aku  pun  tersadar.  Dunia  dewa  dan  dunia  manusia  memang  tak
        mungkin bersatu. Salah seorang harus rela menyeberang. Dan, tak kulihat niat itu baik
        pada Ayah maupun Ibu. Sementara aku dan Hara terbelah di tengah perpecahan mereka.

          Karena perpecahan itulah, aku tidak bisa sepenuhnya jujur kepada Ibu, bahwa selama
        aku menjadi murid Ayah, hanya satu kali ia sungguhan mengujiku. Semua catatan yang
        tadi  dipegang  Ibu  cuma  mainan  bagi  kami.  Materi  yang  Ayah  ujikan  tidak  tercatat  di
        kertas.


          Ujian itu terjadi semalam.

                                                                                                               7.

        Semalam,  Ibu  tidak  di  rumah.  Ia  pergi  menginap  di  rumah  Abah  dan  Umi.  Hara  ikut
        dibawa. Hanya tinggal aku dan Ayah.

          Pukul  20.00,  ketika  kupikir  sudah  waktunya  untuk  bersiap  tidur,  tahu-tahu  Ayah
        mengajakku  keluar.  Ia  bilang,  ada  pelajaran  penting  untuk  kupelajari.  Dan,  pelajaran
        tersebut hanya bisa dilakukan malam-malam.

          Memboncengkanku di jok belakang sepedanya, seperti biasa Ayah berangkat dengan tas
        terpal hijaunya yang diselempangkan di bahu. Hanya saja, tas itu tampak ekstrapadat dari

        biasa. Ia bersepeda keluar menjauhi kompleks. Menuju Batu Luhur.

          Sampai di mulut kampung, aku belum menaruh curiga. Batu Luhur sudah tertidur lelap,
        sunyi  senyap  dengan  penerangan  minim.  Ini  pasti  pelajaran  khusus  tentang  serangga
        malam, pikirku. Aku tahu aku berusaha menghibur diri.

          Curigaku  muncul  ketika  mulai  menyadari  ke  arah  mana  Ayah  membawa  sepedanya.
        Rumah  Abah  sudah  jauh  terlewati,  dan  sepeda  kami  masih  terus  menuju  pinggir  luar
        kampung. Dengan cepat, curigaku berubah menjadi takut.
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40