Page 36 - Supernova 4, Partikel
P. 36

Bulan bersinar, memberi kami sedikit tambahan penerangan selain lampu sepeda Ayah
        yang temaram. Ia berhenti mengayuh. Sepedanya lalu diparkir di bawah pohon, di pinggir
        terluar dari area “normal” sebelum tanah mulai membukit dan rimba itu dimulai. Dalam
        kegelapan malam, Bukit Jambul terlihat seperti lubang hitam.

          “K–kita masuk ke sana, Yah?” tanyaku gemetar. Tubuhku menggigil kedinginan padahal
        sudah dilapisi jaket. Pasti karena rasa takut. Sejak peristiwa lahirnya Adek, aku jadi tak

        suka malam hari. Di atas segalanya, aku tak suka tempat ini.

          “Tenang, Zarah. Nggak ada yang perlu kamu takutkan di sini. Ada Ayah,” ia berkata
        seolah dirinya kuncen resmi yang ditunjuk pohon-pohon raksasa itu.

          “Nggak ada lagi yang tahu jalan masuk ini selain Ayah. Hanya lewat titik ini kamu bisa
        masuk ke dalam bukit. Hafalkan baik-baik. “

          Aku  celingukan.  Tak  mengerti  apa  yang  bisa  dihafal.  Semuanya  gelap.  Tapi,  aku
        berusaha keras. Demi menjaga integritasku di depannya.

          “I–itu pohon salam, kan, Yah?” tanyaku sambil menunjuk batang pohon tempat sepeda

        Ayah terparkir. Sempat tadi kubaui semilir wangi daunnya yang khas.

          “Betul. Apa lagi?”

          Aku menaksir, kira-kira kami berdiri di arah pukul dua dari tempat sepedanya terparkir.
        Cuma  itu.  Semua  yang  menghadap  ke  arah  Bukit  Jambul  gelap  gulita.  Tak  bisa  lagi
        kuhafal apa-apa. Atau mungkin mataku sudah tersaput ketakutanku sendiri.

          Akhirnya, Ayah yang memberi tahu. “Yang kupegang ini namanya pohon puntadewa.
        Kalau siang hari, kamu bisa lihat puntadewa punya buah keras bergelantungan, bentuknya
        seperti kantong air. Tidak ada lagi puntadewa di seluruh pinggiran Bukit Jambul. Hanya

        satu ini. Kalau kamu lihat pohon ini, ingat, tepat arah pukul dua belas di sepanjang garis
        lurusan puntadewa, akan ada jalan setapak kecil. Cuma muat satu orang. Tapi kita harus
        menembus semak dulu, kira-kira lima puluh meter. Pertahankan arahmu selurus mungkin.
        Karena kalau meleset sedikit saja, setapak itu nggak bakalan ketemu.”

          Dari dalam tasnya, tahu-tahu Ayah mengeluarkan dua pasang sarung tangan berbahan
        kaus yang panjangnya sampai lewat siku. Sepasang diserahkan kepadaku.

          “Pakai  ini.  Semak  di  sana  cukup  tajam.  Ayah  nggak  bisa  tebas  karena  nanti  orang
        kampung bisa curiga.”


          Tak  hanya  sarung  tangan,  ternyata  Ayah  juga  membawa  sepasang  kain  sarung  untuk
        melindungi tubuh kami. Sekilas kulihat kilau pisau belati.

          “Untuk jaga-jaga,” katanya menjelaskan tanpa kuminta.

          Bayangan hantu, jin, dedemit, pasukan gaib, serabutan melewati benakku. Semua kisah
        dan  mitos  yang  selama  ini  kudengar  menyerangku  serentak.  Inilah  kontak  terdekatku
        dengan Bukit Jambul. Tak pernah kubayangkan akan memasuki perutnya.

          Ayah berjuang keras menyibak belukar yang menghalangi jalan kami. Lima puluh meter
        yang rasanya mustahil. Kami berdua bagaikan ikan yang berusaha menembus jala nelayan.
   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41