Page 37 - Supernova 4, Partikel
P. 37

Sulit, nyaris tak mungkin.

          Akhirnya, aku lupa semua cerita horor tadi. Sibuk oleh ranting yang tersangkut-sangkut
        di  sekujur  tubuh.  Napasku  mulai  memburu.  Belukar  sejenis  rotan  ini  seperti  menyedot
        pasokan oksigen dari udara dan mencakar-cakar tubuh dari segala penjuru. Aku tak bisa
        membayangkan hampir setiap hari Ayah melewati neraka belukar itu.

          Tak perlu juga mengira-ngira di titik mana lima puluh meter itu berakhir karena tiba-tiba

        sekeliling  kami  menjadi  lengang.  Masih  bisa  kutangkap  siluet  pohon  yang  melingkupi
        kami dari segala penjuru, tapi terasa ada ruang kosong di hadapan. Tapak kakiku pun tak
        lagi berisik bunyinya. Inilah ternyata setapak yang dimaksud Ayah. Kami berhasil.

          Kelegaanku tak berlangsung lama. Kudengar Ayah berkata, “Duluan. Ayah di belakang
        pakai senter, biar jalanmu kelihatan.”

          Ragu,  aku  melangkah.  Dari  nadanya,  aku  merasa  Ayah  sedang  mengujiku.  Entah  apa
        yang  ia  uji.  Yang  jelas,  melangkah  duluan  ini  adalah  bagian  dari  ujiannya.  Kumohon,
        Ayah. Aku tak suka malam. Aku takut tempat ini. Mulutku terkunci.


          Terang  senter  tak  lepas  dari  pijakanku,  tapi  bolak-balik  aku  curi-curi  mengerling  ke
        belakang. Memastikan Ayah ada.

          “Lihat ke depan saja, Zarah. Kamu harus mempelajari tempat ini,” Ayah mengingatkan.

          Aku menelan ludah. Tak berani lagi melihat ke belakang sembari bingung apa yang bisa
        kupelajari  dari  kegelapan  ini.  Suara  Ayah  terpaksa  menjadi  satu-satunya  barometerku.
        Untuk itu, sengaja terus-terusan kuajak dia bicara.

          “Kata orang, di sini pohon-pohonnya hidup. Betul, Yah?”

          “Betul. Kalau mati, ya, mana bisa tumbuh besar begini?”

          “Bukan  hidup  yang  begitu  maksudnya,  Yah.  Tapi  hidup,  kayak  kita.  Bisa  gerak,  bisa

        punya kehendak….”
          “Semua itu memang ciri-ciri makhluk hidup, kan?”


          “Tapi, katanya pohon di sini bisa bicara, kayak kita.”

          “Seluruh alam ini senantiasa bicara kepada kita, Zarah. Masalahnya, kita mau dengar
        atau tidak.”

          “Katanya, orang yang nebang pohon di sini langsung kesurupan, Yah.”

          “Hutan ini memang tidak sembarangan.” Nada suaranya berubah berat. Dan, ia terdengar
        seperti menjauh.

          “Ayah?”

          “Ya?” Suara itu mendekat lagi.

          “Kalau kita diserang pohon, gimana?”

          “Pohon  ini  nggak  akan  menyerangmu.  Kamu  juga  nggak  punya  niat  menyerangnya,

        kan?”
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42