Page 38 - Supernova 4, Partikel
P. 38

“Nggak, Yah.”

          “Alam dan kita adalah satu, Zarah. Ketika kita percaya pada alam, alam akan melindungi
        kita. Alam akan berbicara kepada kita dengan bahasa tertentu.”

          “Bahasa apa itu, Yah?” aku bertanya.

          “Bahasa rasa dan bahasa tanda,” jawab Ayah lugas. Dari suaranya, aku bisa menaksir
        jaraknya hanya tiga langkah di belakang.

          “Kalau kepingin belajar bahasa alam, caranya gimana, Yah?”

          “Kamu harus belajar kepada binatang.”


          Aku  tercenung.  Mungkin  itulah  yang  membuat  Ayah  susah  dimengerti  orang  lain.
        Baginya,  tolok  ukur  kemajuan  manusia  adalah  makin  miripnya  kita  dengan  binatang,
        makin dekatnya kita dengan alam. Sementara itu kehidupan di luar sana bergulir ke arah
        sebaliknya.

          Tiba-tiba,  ada  suara  gemeresik  dari  sebelah  kanan  kami.  Aku  terlonjak  kaget.
        Untungnya, kendali refleksku masih cukup kuat untuk menahan mulut tak ikut memekik.
        Kaki-kakiku langsung terpantek kuat di tanah, tak bergerak.

          Sepertinya Ayah melakukan hal yang sama. Sejenak kami membisu. Keheningan yang
        rasanya abadi.


          “Bukan apa-apa, Zarah. Tenang saja.” Suara Ayah mencairkan persendianku.

          Aku kembali berjalan. Ayah berjalan agak jauh di belakangku.

          “Kalau kita diserang binatang buas, gimana, Yah?”

          “Di sini nggak ada binatang buas.”

          “Tahu dari mana?”

          “Ini rumah kedua Ayah. Ayah tahu.”

          Bulu kudukku meremang. Ucapannya membuatku bergidik. Bersamaan dengan itu aku
        tahu suaranya telah menjauh lebih dari sepuluh langkah. Bersamaan dengan itu pula lampu
        senter padam.

          Aku  tersentak  oleh  gulita  yang  hadir  mendadak,  oleh  kesendirian  yang  tahu-tahu

        menyergap. Spontan, aku berhenti.

          “Ayah!”

          Segera  aku  sadar,  sungguh  tak  bijak  berteriak  di  tempat  ini.  Dan,  kesadaranku
        selanjutnya adalah, Ayah tak akan menjawab. Aku cukup kenal ayahku untuk tahu bahwa
        dia mampu meninggalkanku sendirian, di hutan paling angker sekalipun.

          Jantungku  berdebur.  Tubuhku  menggeligis.  Napasku  memburu.  Air  mataku  mulai
        melelehi pipi. Aku teringat Hara, teringat Ibu, teringat rumah kami yang hangat dan aman.
        Ingin  kuamuk  dan  kumaki  Ayah  yang  tega  menelantarkan  anak  kecil,  darah  dagingnya

        sendiri.  Namun,  aku  tahu  ia  mampu  melakukannya  demi  apa  pun  itu  yang  ingin  ia
   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43