Page 39 - Supernova 4, Partikel
P. 39

buktikan.

          “Ayah, Ayah…,” aku merintih. Bagaikan mangsa dalam rongga anakonda yang dilumat
        dan diremukkan inci demi inci, begitu pulalah gulita ini menelanku pelan-pelan. Waktu
        terasa berhenti. Yang bergerak hanya gelap. Membungkusku kian erat.

          Aku  berjongkok  dan  meringkuk  sambil  terisak  pelan.  Niatku  cuma  terus  mematung
        seperti itu hingga matahari terbit.

          Tiba-tiba,  terdengar  suara  kersik,  dekat  sekali  dengan  kakiku  yang  terlipat.  Sesuatu

        bergesekan  dengan  kulitku.  Aku  menjerit  kaget  tanpa  bisa  ditahan.  Sama  kagetnya,
        makhluk itu tampak bergerak kalang kabut. Dan, mataku yang mulai beradaptasi dengan
        gelap dapat mengenali pengusik tadi. Seekor musang.

          Napasku  mengembus  lega.  Kekagetan  tadi  seperti  melepaskan  beban  yang  mengunci
        tubuhku.  Dan  entah  mengapa,  kalimat  Ayah  menjadi  masuk  akal.  Seekor  musang  kecil
        mengarungi hutan ini tanpa keraguan, pikirku. Dan, satu-satunya cara agar selamat keluar
        dari sini adalah meniru kepercayaan sang musang pada hutan, membuat tempat gulita dan

        asing ini menjadi rumah hangat dan aman.

          Perlahan,  aku  berdiri.  Membalikkan  badan.  Kutatap  rimba  bayang  di  sekelilingku,
        kutatap langit yang bukan lagi hitam membutakan melainkan abu. Bulan tak lagi ditutupi
        awan. Sedikit cahaya putihnya mulai tampak menembusi rapatnya pepohonan.

          Kulepaskan  tanganku  yang  sedari  tadi  menelikung  tubuh  erat-erat.  Kedua  lenganku
        kembali menggantung santai. Dengan langkah kecil dan pelan, kucoba untuk maju. Aku ini
        musang, pikirku. Ini rumahku, pikirku lagi. Aku sedang jalan-jalan mencari makan atau

        sekadar menghirup udara segar atau janjian main dengan musang lain.

          Mataku  yang  tadinya  terpusat  ke  jalan  mulai  mampu  melihat  ke  kiri-kanan,  menjalin
        perkawanan dengan rimba bayang. Suara-suara aneh yang tadi mencekam mulai terdengar
        lebih bersahabat. Aku  ini  musang  yang  tahu  jalan,  pikirku  lagi.  Dan,  sekalipun  kakiku
        kadang terseok dan tersuruk di setapak kecil ini, rasa takut itu tidak kembali lagi. Sesekali
        ada  yang  seperti  mengintaiku  dalam  kegelapan  itu,  entah  apa.  Meski  dalam  hati,  aku
        mencoba menyapanya, kita adalah satu.

          Aku berjalan terus mendaki bukit. Langkah-langkahku sudah berubah ringan dan gesit.

        Hingga di satu titik, setapak menanjak itu berubah menjadi rata dan lebar. Ternyata, aku
        sudah sampai di puncak.

          Mendadak, dadaku terasa mengerut. Keningku mengencang. Lututku roboh begitu saja
        seperti  tangkai  lunglai.  Apa  ini?  Kenapa  begini?  aku  berteriak-teriak  dalam  hati.  Pasti
        karena aku kurang minum, dugaku cepat. Badanku kecapaian karena jalanan menanjak
        tadi,  pikirku  lagi.  Namun,  aku  tersadar,  kerongkonganku  tidak  terasa  kering.  Tubuhku
        yang terlatih naik-turun bukit juga tidak sebegitu lelahnya. Ini sesuatu di luar tubuhku.

        Entah apa.

          Tak  lagi  terhalangi  pepohonan,  sinar  bulan  membanjur,  menerangi  selapang  tanah  di
        hadapanku.  Bentuknya  melingkar,  besarnya  kira-kira  setengah  lapangan  bola.  Bukan
        hanya tak berpohon, lapangan itu bahkan tak berumput. Dan, yang paling mengagetkanku
   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44