Page 40 - Supernova 4, Partikel
P. 40

adalah  ada  Ayah  di  sana.  Berdiri  di  tengah-tengah.  Bagaimana  ia  bisa  sampai  di  sana?
        Sementara setapak tadi hanya muat untuk satu orang? Apakah ada setapak lain?

          Tertatih, aku mencoba berdiri. Kepalaku masih terasa kesemutan. Napasku masih satu-
        satu. Atmosfer tempat ini begitu menyesakkan.

          “Ayah….” Sempoyongan, aku berusaha menghampirinya.

          Ayah sudah menghambur lebih dulu. Ia memelukku, dan aku balas mendekapnya erat.
        Amarahku tak lagi bersisa, musang tadi sudah membawa rasa itu kabur dan mungkin nanti

        diproses menjadi kopi luwak.

          “Ayo, kita pulang,” bisiknya. Nada itu gembira.

          “Langsung? T–tapi, aku baru sampai di sini, bukannya masih ada ujian lagi?”

          Ayah berhenti. Ia membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajahku. “Kamu tahu
        tadi kamu diuji?”

          Pelan, aku mengangguk. Aku sudah tahu sedang diuji dari waktu duduk di jok belakang
        sepedamu di teras rumah, Ayah.

          Ayah  mendekapku  lagi.  “Kamu  memang  anak  luar  biasa,  Zarah,”  bisiknya.  Tubuhku
        terasa membengkak karena rasa bangga.


          “Pelajaran  sekaligus  ujianmu  hari  ini  sudah  selesai,  Nak.  Kamu  berhasil  sampai  di
        puncak bukit. Itu sudah cukup. Bukit ini sudah menerimamu,” katanya lagi sambil melihat
        ke sekeliling, seakan meminta persetujuan pada pihak lain yang tak kelihatan.

          Kami  menuruni  Bukit  Jambul  sambil  berpegangan  tangan.  Ayah  tak  lagi  berjalan  di
        belakangku. Dalam kegelapan, wajahku berseri-seri. Aku bahagia karena lulus ujian Ayah.
        Dan,  tampaknya  ia  berbagi  kebahagiaan  yang  sama.  Perjudiannya  menang  telak.  Tak
        hanya  anak  kesayangannya  berhasil  mendaki  ke  puncak  bukit  paling  angker  dengan

        selamat,  tapi  ia  juga  dapat  menantu.  Pada  usiaku  yang  genap  dua  belas  tahun,  Ayah
        melepasku kawin dengan alam. Dengan Bukit Jambul.




        Baru saat kami kembali bersepeda menuju rumah, aku berani bertanya-tanya.

          “Ayah, di puncak tadi, itu lapangan apa?”

          “Semacam portal, Zarah.”

          “Apa itu ‘portal’?”

          “Gerbang.”

          “Tapi, mana gerbangnya?”

          Ayah diam. Setelah sekian kayuh, baru dia menjawab pendek, “Belum kelihatan.”


          “Gimana caranya supaya kelihatan, Yah?”
          “Kita  nggak  bisa  menentukan  itu,  Zarah.  Mereka  yang  di  seberang  sanalah  yang

        menentukan karena itu portal mereka. Bukan kita.”
   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45