Page 63 - Supernova 4, Partikel
P. 63

Malamnya,  kembali  dalam  percakapan  bervolume  pelan,  terdengar  Abah  berdiskusi
        dengan Ibu.

          “Kamu  harus  mulai  mencarikan  teman-teman  Muslim  buat  Zarah.  Itu  anak,  kan,
        landasan  agamanya  hampir  nggak  ada.  Kalau  dia  malah  berteman  dengan  yang  nggak
        seiman, gawat, bisa-bisa terpengaruh dia,” kata Abah.

          “Zarah itu susah sekali dapat teman, Bah. Ada satu ini juga sudah syukur,” balas Ibu.

          “Kamu itu, Aisyah, selalu saja menyerah sebelum mencoba. Dulu, hidupmu disetir oleh

        Firas. Sekarang, hidupmu disetir oleh anakmu sendiri.”

          Ibu tak menyahut. Tak lama, Abah pun pulang.

          Di  tempat  dudukku,  aku  merasakan  ketegangan  merayap  naik.  Kalau  sampai  mereka
        berani-berani  mengusik  persahabatanku  dengan  Koso…  aku  menelan  ludah.  Menyadari
        perasaan yang mencekamku dan terpana sendiri oleh kekuatannya. Perasaan induk yang
        rela  bertarung  habis-habisan  demi  melindungi  anaknya.  Persahabatan  ini  ternyata
        memiliki  arti  yang  amat  besar  bagiku.  Ketiadaan  Ayah,  sahabat  terdekatku  selama  ini,

        menjadikan  Koso  hartaku  yang  paling  berharga.  Dan,  aku  rela  berbuat  apa  saja  demi
        melindunginya.

          Pada hari kenaikan ke kelas 3 SMA, aku membuktikannya.

                                                                                                             14.

        Beberapa bulan sebelum kenaikan kelas, Pak Yusuf digantikan oleh kepala sekolah baru.
        Namanya  Bu  Kartika.  Seorang  perempuan  separuh  baya  bertubuh  tegap  dengan  kerpus
        senantiasa menutupi rambutnya. Ia berwajah tegas, berekspresi tegas, dan bersikap sama
        tegas.  Bibirnya  menyerupai  garis  datar  yang  ditarik  penggaris,  hampir  tak  pernah

        melengkung  ke  atas.  Saat  berbicara  pun  Bu  Kartika  hanya  membuka  mulutnya  sedikit
        saja. Ia lebih suka diam. Dan, diamnya itulah yang menundukkan semua orang.

          Suatu waktu, aku melihat ayah Koso keluar dari ruangan kepala sekolah dengan muka
        memberengut.  Berbeda  dengan  ekspresinya  dulu  setiap  mengunjungi  Pak  Yusuf.  Ada
        ketegangan antara ayah Koso dan Bu Kartika. Hatiku langsung kecut.

          Kenaikan kelas tiba. Ketakutan besarku kali ini mewujud. Koso tidak naik kelas.

          Di bahuku, Koso, yang berukuran dua kali lebih besar, meraung seperti balita berduka.

          “Saya tidak mau pisah sama kamu, Zarah,” isaknya. “Cuma kamu yang benar-benar baik
        sama saya.”


          Pandanganku kabur oleh genangan air mata. “Jangan takut, Koso,” kataku dengan suara
        bergetar,  menepuk-nepuk  bahunya.  “Saya  akan  selalu  jadi  temanmu.  Kita  akan  terus
        sebangku.” Sementara seragamku lembap oleh air mata Koso, aku berpikir dan berpikir,
        apa yang harus kulakukan?

          Siang itu juga aku menemui Bu Kartika. Memberanikan diri menatap langsung matanya
        yang angker.

          “Bu, saya mau izin,” kataku, suaraku lebih gemetar ketimbang saat tadi bersama Koso.
   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68