Page 64 - Supernova 4, Partikel
P. 64

“Izin apa?”

          “Saya mau mengulang kelas 2.”

          “Kamu mau tinggal kelas?”

          Aku mengangguk.

          “Nilaimu bagus, Zarah. Kalau bukan karena nilai PMP dan agamamu yang jeblok, kamu
        pasti masuk tiga besar. Kenapa mau tinggal kelas?”

          “Saya mau bantu Kosoluchukwu belajar, Bu.”

          Meski sekilas, aku yakin baru saja melihat Bu Kartika tersenyum. Senyum sinis.

          “Kamu tidak bisa bantu dia. Sekolah ini pun tidak.”

          “Kenapa  begitu,  Bu?  Apa  masalahnya?”  sergahku.  Ketakutanku  meluntur,  berganti

        kecurigaan.

          “Kosoluchukwu itu disleksia. Kamu tahu itu apa?”

          Aku menggeleng.

          “Itu  kelainan  otak,  Zarah.  Kosoluchukwu  punya  kesulitan  membaca  dan  mengingat.
        Karena  itu  masalah  klinis,  sekolah  ini  bukan  sekolah  yang  tepat  untuknya. Sudah saya
        bilang juga ke bapaknya. Dia tidak terima. Dia cuma ingin anaknya lulus, dapat ijazah.
        Saya nggak bisa bantu.” Bu Kartika lalu berjalan membuka pintu, pertanda ia menyuruhku
        pergi dari hadapannya, “Kosoluchukwu butuh bantuan ahli. Bukan bantuanmu.”

          “S–saya…  tetap  mau  tinggal  kelas,  Bu,”  aku  tergagap  sambil  beranjak.  Tatapan  itu

        berhasil mendesakku keluar.

          Dingin, Bu Kartika kembali memandangku. Lama. “Terus terang, dalam kasus kamu,
        saya nggak keberatan. Usia kamu prematur untuk anak SMA. Dan, saya tahu kamu punya
        masalah  dengan  beberapa  pelajaran  dan  beberapa  guru.  Ekstra  bersekolah  setahun
        mungkin bisa membantu kamu berubah.”

          Begitu kakiku menginjak batas ruangan, Bu Kartika menutup pintu. Aku melanjutkan
        berjalan  masih  dengan  terlongo.  Disleksia.  Aku  tak  tahu  itu  apa  dan  apa  yang  harus

        kulakukan. Yang jelas, kini aku harus menghadap ke satu orang lagi. Ibu.




        Sebagaimana  yang  sudah  kuduga  dan  kuantisipasi,  Ibu  mengamuk  habis-habisan.  Aku
        juga tak berupaya menjelaskan panjang lebar alasanku. Aku yakin Ibu tak akan mengerti.
        Alasanku pun memang tak ada yang bisa dipanjangkan atau dilebarkan. Aku cuma tidak
        ingin kehilangan teman sebangkuku. Sesederhana itu.


          Setelah  mentok  membujuk  dan  mengamuk,  Ibu  kembali  mengeluarkan  senjata
        pamungkasnya: Abah.

          Di  luar  dugaan  kami,  Abah  tidak  menentang  pilihanku  tinggal  kelas.  Serupa  dengan
        alasan Bu Kartika, Abah berkata, “Biarlah, Aisyah. Zarah masih terlalu muda. Lulus SMA
   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68   69