Page 65 - Supernova 4, Partikel
P. 65

tahun depan pun dia belum tahu maunya apa. Biar saja dia sekolah lebih lama. Jadi, kita
        juga punya waktu untuk memperbaiki akhlaknya.”

          Itu dia. Agenda klasik Abah. Aku seharusnya sudah bisa menduga.

          Kali ini aku terbantu oleh agenda kakekku. Meski terus bersungut-sungut, Ibu akhirnya
        meloloskan keinginanku tinggal kelas.

          Setahun lagi bersama Koso. Senyumku membersit tanpa bisa ditahan.





        Kembali  Koso  menangis  ketika  tahu  aku  tinggal  kelas  demi  menemaninya.  Tangis
        bahagia. Didekapnya aku sekuat tenaga, sampai napasku sesak.

          “Kamu  orang  paling  gila,  Zarah.  Orang  paling  gila  dan  paling  kuat  yang  saya  tahu,”
        katanya bercampur tangis dan tawa.

          “Saya  akan  bantu  kamu  belajar,  Koso.”  Dari  tas,  aku  mengeluarkan  setumpuk  kertas
        yang sudah kujepit rapi. “Saya sudah cari tahu soal disleksia. Ada beberapa cara yang bisa

        dicoba.”
          Tawa Koso surut. “Kamu tahu dari mana?”


          “Bu Kartika.”

          Koso menggeleng. “I told you. I can never be smart, Zarah.”

          “Yes, you can.”  Aku  menggenggam  kedua  tangannya  kencang.  “Kamu  nggak  bodoh,
        Koso. Kamu lebih pintar daripada banyak orang yang saya tahu. Dari yang kubaca di sini,
        kecerdasan itu ada banyak jenis.” Aku membuka-buka bahan risetku. “Ini, ada kecerdasan
        yang namanya kecerdasan kinestetik. Ini kecerdasanmu, Koso. Di sekolah kita, kamulah
        juaranya! Nggak ada yang mengalahkan kamu!”

          Koso tersenyum masam. “Tapi, saya tetap nggak naik kelas.”

          “Tahun ini kamu akan naik kelas,” sahutku mantap.


          “How? It’s impossible. Bu Kartika itu keras sekali. Papa saya sampai mengamuk. Papa
        bilang  Bu  Kartika  tidak  tahu  diri,  padahal  saya  berjuang  untuk  tim  sekolah  di  semua
        pertandingan. Tapi, Bu Kartika tidak peduli. Kata Bu Kartika, prestasi olahraga saja nggak
        cukup.”

          “Kita akan cari cara supaya kamu bisa belajar.”

          “How, Zarah? How?” keluh Koso.

          Aku merangkul pundaknya. “Kamu tenang saja, Koso. Kita akan belajar sama-sama.”

          Adik bayiku mati karena kelainan genetik dan hingga hari ini orang-orang menyalahkan
        ayahku karena ia disangka berkolusi dengan setan. Koso dianggap bodoh karena kelainan
        otak, dan kali ini aku tidak akan membiarkan ketidaktahuan orang-orang menghancurkan

        hidupnya.
   60   61   62   63   64   65   66   67   68   69   70