Page 66 - Supernova 4, Partikel
P. 66

Menjadi mentor Koso ternyata lebih menantang daripada yang kuduga.

          Semua pelajaran harus kuterjemahkan menjadi gambar, diagram, dan warna. Setumpuk
        kertas  polos  dan  segepok  spidol  warna-warni  adalah  perangkat  wajibku.  Karena  Koso
        kesulitan membaca kalimat panjang, aku harus menyarikan kata-kata kunci yang pendek-
        pendek, menyusunnya sedemikian rupa hingga menjadi peta yang bisa ia mengerti.

          Aku terpaksa belajar teknik-teknik membaca cepat karena hanya itulah cara membaca

        yang bisa dipakai Koso. Melihat kata dan kalimat sebagai blok-blok yang hanya ditangkap
        substansinya saja tanpa perlu tersesat dalam rimba huruf. Jika itu masih terlalu susah, aku
        harus  membantu  Koso  dengan  menambahkan  elemen-elemen  taktil  seperti  potongan
        gambar, kertas, bahkan malam.

          Seminggu sekali,  aku  membuat  simulasi  ujian  esai  buat  Koso  agar  ia  mulai  terbiasa
        memahami soal. Dugaanku terbukti benar. Koso tidak bodoh. Ia berhasil mengingat semua
        jawaban.  Meski  tidak  bisa  menulis  panjang-panjang,  jawaban  pendeknya  akurat  dan

        runcing.  Guru  yang  waras  dan  tidak  terkelabui  kalimat  panjang  tanpa  isi  akan  mampu
        melihat akurasi jawaban Koso.

          Dalam  tiga  bulan,  performa  studi  Koso  meningkat  jauh.  Lembar  jawabannya  tak  lagi
        kosong.  Aku  mulai  melihat  Koso  mengumpulkan  kertas  ulangannya  dengan  senyum
        percaya diri. Nilainya bervariasi dari enam sampai tujuh setengah. Tidak lagi dua sampai
        empat  seperti  dulu—angka-angka  yang  dikasih  guru  lebih  sebagai  “upah  menulis”  dan
        “upah hadir” belaka.

          Pada  pergantian  semester,  Koso  menerima  rapornya  dengan  mata  berbinar.

        Kerongkonganku tercekat melihat deretan angka enam dan beberapa tujuh. Dan, kami tahu
        pasti,  angka  itu  bukan  sulapan  Kepala  Sekolah,  bukan  sulapan  siapa-siapa,  melainkan
        murni hasil perjuangan Koso.

          Di koridor sekolah hari itu, aku berpapasan dengan Bu Kartika. Mata kami beradu. Kami
        sama-sama tahu. Hari itu adalah hari kemenanganku.

                                                                                                             15.

        Tepat seminggu dari hari pertama semester kedua kami dimulai, aku dikejutkan oleh Koso
        yang muncul dengan mata sembap. Aku bertanya ada apa dan mengapa matanya sembap

        seperti  baru  menangis  satu  ember,  Koso  menjawab  dengan  diam.  Sesudah  istirahat
        pertama, Koso izin pulang karena tidak enak badan. Seketika aku tidak enak hati. Ada
        yang tidak beres.

          Tanpa memedulikan diamnya, sepulang sekolah aku mendatangi rumah Koso.

          Koso  tinggal  di  perumahan  elite  di  dekat  pintu  tol  Jagorawi  karena  ayahnya  sering
        bolak-balik ke Jakarta. Rumah besar itu terasa kosong karena hanya dihuni oleh Koso dan
        ayahnya.  Sementara  itu,  tiga  pembantu  bertumplak  di  area  servis.  Aku  curiga,  ketiga

        pembantunya lebih disibukkan mengurus rumah besar itu ketimbang mengurus Koso dan
        ayahnya.

          Ibunya meninggal karena sakit waktu Koso berusia  sepuluh  tahun.  Koso  adalah  anak
        tunggal. Ayahnya seharian hampir tak pernah di rumah karena sibuk berbisnis. Terkadang,
   61   62   63   64   65   66   67   68   69   70   71