Page 67 - Supernova 4, Partikel
P. 67

aku merasa pemersatuku dengan Koso sesungguhnya adalah kesepian kami.

          “Zarah…? Kamu ngapain ke sini?” tanya Koso sambil menuruni tangga rumahnya.

          “Saya mau tahu apa yang kamu sembunyikan,” tandasku langsung.

          Langkah  Koso  terhenti.  Di  atas  tangga  itu,  Koso  tampak  bagaikan  tiang  hitam
        menjulang. Kaku menatapku. “Saya harus pergi dari Indonesia.”




        Sisa hari itu, akulah yang berubah linglung.


          Urusan  ayah  Koso  sudah  selesai  di  Indonesia.  Ia  berganti  partner.  Kali  ini  ia  akan
        bermitra dengan perusahaan yang berbasis di Inggris. Koso sempat meminta untuk tetap
        tinggal  di  Bogor,  tapi  ayahnya  tak  mungkin  melepas  anak  perempuannya  sendirian  di
        negeri  orang.  Koso  harus  ikut  pindah.  Ia  bahkan  tak  akan  menunggu  hingga  kenaikan
        kelas. Bulan depan, Koso berangkat ke London.

          “Kamu sudah pernah ke London?” tanyaku.

          “Belum. Katanya, di sana dingin dan jarang muncul matahari. Saya nggak suka, Zarah.
        Saya suka di sini. Hangat, banyak sinar matahari. Mirip dengan Nigeria.” Koso mencoba

        tersenyum.

          “Di  London,  pasti  ada  sekolah  yang  lebih  sesuai  untukmu.”  Aku  ikut  memaksakan
        senyum.

          “Ya, kata Papa juga begitu. Tapi, di sini saya sudah punya guru terbaik. Kamu.”

          “Kamu akan jadi orang hebat di London, Koso. Saya yakin.” Aku berusaha mati-matian
        tampak tegar.

          “Kapan-kapan, kamu mengunjungi saya di London, ya?”

          Kepalaku mengangguk, tapi hatiku berteriak protes. London? Memangnya kamu pikir
        saya siapa? Bagaimana mungkin saya sampai ke sana?


          Aku pergi dari rumah Koso dengan perasaan campur aduk. Sedih, marah, putus asa. Aku
        merasa dikhianati. Entah oleh siapa. Karena rasanya aku tak bisa menyalahkan Koso. Tak
        ada yang bisa kusalahkan. Namun, aku tetap merasa disalahi.

          Segala andai-andai menyerbu benakku. Andai saja aku tidak tinggal kelas, aku tak perlu
        lagi mengulang pelajaran sama yang sudah tak ada tantangannya lagi. Andai saja aku tidak
        tinggal  kelas,  dalam  enam  bulan  aku  sudah  bisa  bebas  dari  sekolah.  Kini,  aku  harus
        menjalani satu setengah tahun lagi bersama kesendirian dan guru-guru yang memusuhiku.

          Aku  berusaha  melawan  perasaanku  sendiri,  aku  tidak  ingin  menyesal.  Tapi  semakin

        kulawan,  penyesalan  itu  semakin  kuat  menggigit.  Meracuniku.  Membuat  hidup  ini
        semakin getir.




        Tidak  ada  yang  dramatis  dari  perpisahanku  dengan  Koso.  Aku  merangkul  dan
   62   63   64   65   66   67   68   69   70   71   72