Page 68 - Supernova 4, Partikel
P. 68

menyalaminya  bersama  anak-anak  lain  di  sekolah.  Bu  Kartika  melepas  Koso  dalam
        perayaan sebagai ungkapan terima kasihnya atas sederet trofi yang disumbangkan Koso
        bagi sekolah, atau bisa juga karena ia berlega hati melepas tanggung jawabnya atas siswa
        disleksik yang tak sanggup ia bantu.

          Kepergian  Koso  diumumkan  saat  upacara  bendera.  Seusai  upacara,  kami  disuruh
        membuat lingkaran. Menyalami Koso satu-satu seperti di kondangan. Bu Kartika berdiri

        di  sebelahnya  dengan  sudut  bibir  yang  terangkat,  bukan  karena  tersenyum,  melainkan
        karena mengernyit diterpa matahari.

          Itulah  hari  terakhir  Koso  masuk  sekolah.  Ia  menggenggam  tanganku  lama  sebelum
        masuk ke mobil ayahnya.

          “Saya akan kirim surat dari London. Jangan lupa dibalas, ya,” pinta Koso.

          “Pasti. Saya janji.” Kugenggam balik tangannya.

          Koso tersenyum manis, memamerkan susunan giginya yang sempurna. Ia melambaikan
        tangan. Ayahnya ikut melambai dari dalam mobil.

          Aku membalas.


          Itulah hari terakhir terjadi komunikasi resiprokal di antara kami.
          Aku  tak  ingin  mengingkari  janjiku,  tapi  apa  yang  bisa  kubalas  jika  suratnya  pun  tak

        pernah ada? Sampai hari terakhir aku menyandang status siswa di sekolah, surat dari Koso
        tak pernah datang.

                                                                                                             16.

        Empat tahun di SMA terbukti tidak mendatangkan hasil yang diharapkan Abah dan Ibu.

          Aku menjadi lulusan termuda sekaligus lulusan tersesat. Termuda karena usiaku belum
        tujuh  belas  tahun.  Tersesat  dalam  arti  konsisten  mempertahankan  gelar  sebagai
        penyembah berhala, dan juga tersesat dalam arti tak tahu dan tak mau meneruskan sekolah
        ke mana-mana.


          Jika bukan karena numpang tidur dan menemani Hara, aku hampir tak pernah di rumah.
        Sengaja kuhindari Ibu dan duo Abah-Umi yang kerap menginspeksi rumah kami secara
        tiba-tiba seperti petugas tramtib. Setiap ada celah, aku selalu didesak untuk ikut UMPTN,
        ikut  bimbingan  belajar,  masuk  pesantren,  atau  les  mengaji.  Kadang  aku  merasa  kami
        sedang melakukan dagelan bersama. Mereka, yang tak bosan-bosannya meminta hal sama.
        Aku, yang tak henti-hentinya menolak.


          Bebas dari bangku SMA mengembalikanku pada fokus yang sempat terbengkalai: Ayah.
          Kembali kubongkar jurnal dan timbunan berkas Ayah yang selama ini kusembunyikan

        rapi. Membacanya setiap hari.
   63   64   65   66   67   68   69   70   71   72   73