Page 69 - Supernova 4, Partikel
P. 69

Tanpa  rutinitas  sekolah,  hidupku  menjadi  miniatur  hidup  Ayah  dulu.  Kini,  aku  jadi
        mentor bagi Hara, menemaninya belajar dan mengerjakan PR. Sisa waktuku kuhabiskan
        bersepeda ke Batu Luhur, pergi ke ladang Ayah, atau ke kaki Bukit Jambul, memandangi
        rimbunan  pohon  raksasa  itu  sambil  membatin,  kapankah  gerangan  kudapatkan

        keberanian untuk memasukinya?

          Kendati sudah pernah tiba dengan selamat di puncaknya, ada keseganan besar untukku
        kembali  ke  sana.  Sesuatu  seolah  berkata,  belum  waktunya.  Aku  tak  tahu  apa  yang
        kutunggu. Kendati demikian, tempat itu tetap menarik seluruh perhatianku seperti magnet
        besar.

          Suatu hari, sekembalinya aku dari sesi melamun di kaki Bukit Jambul, aku dikejutkan

        oleh kehadiran Ibu di saung ladang Ayah. Hal pertama yang kusadari selain ekspresi Ibu
        yang  tak  bersahabat  adalah  tangannya  yang  mengepal,  menggenggam  beberapa  helai
        kertas folio. Berkas Ayah yang tadi kubaca di saung. Aku terkesiap. Tidak siap.

          “Kamu bohong sama Ibu,” dengan suara rendah Ibu berkata. “Kamu bilang ini sudah
        disita polisi.”

          Aku menyesal setengah mati kenapa aku begitu sembrono meninggalkan kertas-kertas
        itu  di  saung.  Tanganku  diam-diam  meraba  kantong  belacu  yang  tergantung  di  bahuku,
        memastikan jurnal-jurnal Ayah masih ada.

          “Ibu  ke  sini  karena  orang-orang  kampung  lapor,  katanya  kamu  sering  pergi  ke  dekat

        Bukit Jambul. Benar itu?”

          Lidahku kelu.

          “Kenapa kamu begitu bodoh, Zarah? Kenapa kamu begitu keras kepala? Nggak cukup
        Ayahmu  menyiksa  keluarga  kita?  Masih  harus  kamu  ikut-ikutan?  Nggak  kasihan  kamu
        sama Ibu?”

          “Zarah cuma pengin cari Ayah.”

          “Kalau  ayahmu  memang  sayang  sama  keluarganya,  tanpa  kita  cari,  dia  akan  pulang
        sendiri. Sudah jelas ayahmu meninggalkan kita semua.”

          “Ibu tahu dari mana? Belum tentu Ayah sengaja pergi,” sergahku.

          “Aku istrinya. Aku tahu seperti apa suamiku.”


          “Ibu tidak tahu apa-apa tentang Ayah,” desisku.

          Ibu  menatapku  tajam.  Dapat  kubaca  gelegak  emosinya.  Seujung  kuku  lagi  ia  akan
        meledak.

          “Pulang kamu,” tegas Ibu.

          Dalam kebisuan, kami pulang bersama. Aku dengan sepedaku, Ibu dengan sepedanya.
        Hawa  peperangan  membungkus  kami  berdua.  Bergulir  dan  menggulung  seiring  dengan
        putaran roda sepeda.
   64   65   66   67   68   69   70   71   72   73   74