Page 70 - Supernova 4, Partikel
P. 70

Kusiapkan mentalku untuk persidangan malam ini.

          Abah, Umi, dan Ibu, duduk berjajar di kursi rotan meja makan. Aku duduk sendiri di sisi
        seberangnya, menanti Abah dan Umi membaca berkas Ayah secara bergantian.

          Abah mengusap kumisnya yang lebat dan sudah beruban. “Sudah jelas sekarang. Si Firas
        memang sudah gila.”

          “Pasti gara-gara baca tulisan Firas-lah Zarah jadi seperti sekarang,” lanjut Umi.

          “Ternyata ini yang bikin dia diskors dulu, Bah,” sambar Ibu.

          Berkas  yang  mereka  baca  adalah  sekelumit  hasil  riset  Ayah  tentang  legenda  manusia

        pertama, yang entah dari mana saja sumbernya, tapi sanggup membuat siapa pun yang
        membacanya meradang. Kecuali aku.

          “Abah sudah pernah dengar ada yang bilang manusia pertama itu monyet. Tapi, yang ini
        Abah belum pernah membayangkan. Bisa-bisanya bilang Firdaus itu tempat di Bumi, iblis
        itu manusia biasa. Lalu, bilang lagi kalau manusia itu diciptakan makhluk luar angkasa.
        Ini jelas teori-teori orang gila!”

          “Ayah, kan, hanya mencari tahu. Apa yang salah?” sahutku.

          “Itu hanya kerjaan orang kafir. Apa lagi yang perlu kita cari tahu? Kitab suci adalah
        sumber  ilmu,  Zarah.  Segala  kebenaran  ada  di  sana.  Lihat  saja,  nanti  ilmu  pengetahuan

        akan membuktikan bahwa semua yang diturunkan kepada Rasul ribuan tahun yang lalu itu
        adalah kebenaran.”

          “Untuk membuktikan, orang butuh bertanya, Abah. Kalau cuma diam dan menunggu,
        bagi Zarah, itu yang bodoh.”

          Di atas meja, aku dapat melihat tangan Abah membentuk bogem. Tanda ia mulai gusar.

          “Hamba  Allah  akan  selalu  mendapat  hidayah.  Dia  tidak  perlu  sampai  menyesatkan
        dirinya sendiri. Seharusnya Firas memanfaatkan kecerdasannya untuk menyelami agama.
        Bukan malah cari-cari yang begini.”


          “Jangan  sampai  kamu  ikut-ikutan  sesat,  Zarah.  Kami  cuma  mau  bantu  kamu,”  Umi
        menambahkan.

          “Kalau Abah, Umi, dan Ibu memang mau bantu, biarkan saja Zarah cari sendiri. Kalau
        memang Allah ada, biar saja Allah yang bantu Zarah. Abah, Umi, dan Ibu nggak perlu
        repot. Kita nggak harus ribut terus kayak begini.”

          “Apa  maksud  kamu  ‘kalau  memang  Allah  ada’?  Astagfirullah.  Istigfar,  Zarah!”  seru
        Umi.

          “Lho, apa salahnya bilang begitu?” tanyaku bingung. “Memang apa buktinya Allah pasti

        ada?”

          Abah menatapku murka. Tangannya yang sedari tadi mengepal ia bantingkan ke meja.
        “Buktinya? Seluruh alam raya ini adalah buktinya! Lihatlah sekelilingmu, lihatlah ciptaan-
        Nya, sebut nama-Nya. Itulah bukti Allah!”
   65   66   67   68   69   70   71   72   73   74   75