Page 71 - Supernova 4, Partikel
P. 71

“Kenapa harus begitu? Mobil ada penciptanya, telepon ada penciptanya. Kalau kita mau
        tahu siapa pencipta telepon, ada namanya, fotonya, mukanya. Kenapa ciptaan sepenting
        dan sebesar ini penciptanya malah nggak bisa dilihat? Nggak bisa dibuktikan? Kenapa?”
        balasku gusar.

          “Karena  itulah  kita  butuh  iman,”  sela  Ibu,  “supaya  kita  bisa  percaya  apa  yang  tidak
        terlihat.”


          Kalimat itu sangat membingungkan bagiku. “Kalau begitu, gimana caranya kita tahu kita
        nggak dibohongi? Kalau ternyata semua yang dibilang oleh agama itu bohong, orang yang
        telanjur beriman bagaimana nasibnya? Minta pertanggungjawaban kepada siapa?”

          “Kurang ajar kamu, Zarah!” bentak Umi.

          “Dasar anak ateis!” bentak Abah.

          Aku  pun  merasakan  luapan  amarah  dalam  hatiku.  Mengapa  mereka  harus  meradang
        karena  pertanyaan-pertanyaanku?  Seolah-olah  semua  yang  kuucapkan  adalah  hinaan?
        Kenapa  mereka  tidak  bisa  melihatnya  semata-mata  sebagai  pertanyaan?  Mengapa  kata

        “agama” dan “Tuhan” menyulut api dalam setiap hati orang yang kutemui? Dan, sungguh
        aku muak dengan kata satu itu. Ateis. Bagiku, ini bukan soal percaya atau tidak percaya,
        melainkan tidak adanya kesempatan untuk mempertanyakan.

          “Zarah bukan ateis. Zarah percaya sama alam ini, tapi nggak peduli siapa yang bikin.”

          “Itu namanya panteisme, tahu kamu? Panteisme itu menyembah alam. Artinya, kamu
        memuja  ciptaan  Allah,  bukan  Allah-nya  sendiri.  Sama  saja  dengan  memuja  berhala.
        Musyrik!” sentak Abah lagi.

          Panteisme. Ateisme. Animisme. Dinamisme. Komunisme. Sungguh aku muak dengan

        isme-isme yang dilekatkan kepadaku. Ke mana pun aku pergi, apa pun yang kukatakan,
        selalu ada stempel yang mengikuti. Muak.

          “Kalau Abah cuma bisa mengutip isi kitab, apa bedanya Abah dengan Zarah yang juga
        mengutip tulisan Ayah? Kita sama saja, Bah. Nggak ada yang lebih benar.”

          “Abah bicara isi kitab suci! Kamu bicara tulisan orang yang sudah gila!”

          “Setidaknya yang gila itu usaha sendiri. Bukan seperti Abah, bisanya menadah sejarah.
        Cuma  karena  ada  jutaan  orang  lain  lagi  yang  punya  kepercayaan  sama  seperti  Abah,
        bukan berarti Abah jadi yang paling benar, kan?”

          Setidaknya  tiga  hal  terjadi  nyaris  bersamaan.  Debup  kursi  jatuh.  Sekelebat  bayangan

        Abah di tembok yang sontak berdiri. Jeritan Ibu dan Umi. Dan, yang kulihat berikutnya
        adalah ubin. Sekali ayun, tangan Abah yang lebar dan besar menghantamku. Aku terkapar
        mencium lantai.

          Mataku  mengerjap-ngerjap.  Pandanganku  berkunang-kunang.  Tapi,  bisa  kulihat  jelas
        tetesan darah segar di lantai. Darahku sendiri. Mengucur dari hidung.

          “Dengan segala kesombonganmu, kamu boleh menghina siapa pun di muka bumi ini,
        Zarah. Tapi, jangan sekali-kali kamu menghina agamaku dan Rasulku,” suara Abah yang
   66   67   68   69   70   71   72   73   74   75   76