Page 72 - Supernova 4, Partikel
P. 72

menggelegar terdengar gemetar. “Kamu… bukan cucuku lagi!”

          Dari tempatku terkapar, kulihat kakinya beranjak pergi. Disusul kaki Umi. Ada tangan
        mungil yang kemudian membantuku bangkit. Hara.

          “Kenapa Kak Zarah selalu melawan Abah?” tangis Hara.

          Kulihat  Ibu  terkulai  lemas  di  tempat  duduknya.  Matanya  nanap  memandangi  ruang
        kosong. Ia bahkan tak peduli dengan keberadaanku.

          Diiringi  Hara  yang  terisak-isak,  aku  masuk  ke  kamar.  Aneh.  Aku  tidak  ingin  ikut

        menangis. Tak kurasakan sedih sama sekali.

          Kami berdua duduk di atas ranjang. Sebelah tanganku menepuk-nepuk kepala Hara yang
        terus  terisak  di  bahuku,  dan  tanganku  sebelah  lagi  menyumbat  cucuran  darah  dengan
        bekapan sapu tangan. Selain hidungku yang berdenyut linu, sungguh tak kurasakan apa-
        apa  lagi.  Perbedaanku  dengan  Abah  adalah  jurang  yang  tidak  akan  ada  jembatannya.
        Akhirnya, kuterima itu sepenuh hati.

                                                                                                             17.

        Esok  harinya,  aku  baru  pulang  menjelang  malam.  Aku  harus  memenuhi  panggilan

        wawancara dari tempat kursus bahasa Inggrisku.
          Tak lama setelah lulus SMA, aku menamatkan kursusku hingga level terakhir. Ketika

        melihat  pengumuman  lowongan  guru  dibuka  sebulan  lalu,  tanpa  pikir  panjang  aku
        mendaftar. Tentu aku tidak optimistis akan diterima. Siapa pula yang mau diajar guru yang
        belum punya KTP?

          Di  luar  dugaanku,  ternyata  aku  salah  seorang  kandidat  yang  dipanggil.  Mereka
        berencana menempatkanku di kelas anak-anak yang baru akan diresmikan bulan depan.

          Dengan hidung memar, aku menjalani wawancara dengan mulus. Mereka amat terkesan

        dengan metode pengajaran yang kuajukan. Mereka menganggapku sangat kreatif. Salah
        seorang pengujiku bahkan yakin aku punya pengalaman mengajar yang kusembunyikan,
        mungkin  karena  kerendahan  hati.  Tak  kuungkap  fakta  bahwa  pengalaman  mengajarku
        terbatas  pada  dua  orang  saja.  Koso  dan  Hara.  Koso,  khususnya,  telah  memaksaku
        menguasai berbagai metode pengajaran.

          Direktur  tempat  kursus,  Pak  Ishak,  mewawancaraiku  langsung.  Hari  itu  juga  ia
        mengonfirmasi  posisiku  sebagai  guru.  Tak  perlu  menunggu  panggilan  berikutnya.  Aku

        diterima.

          Ini akan jadi kejutan buat Ibu. Walau aku sudah dicoret dari daftar cucu Abah, mungkin
        pengumuman aku akan jadi guru muda bisa menghiburnya.

          Baru saja sepedaku memasuki pekarangan, Hara menghambur keluar. Ia sudah bersiaga
        menunggu kedatanganku.

          “Kakak… jangan masuk dulu.”

          “Kenapa? Kamu nggak apa-apa?”
   67   68   69   70   71   72   73   74   75   76   77