Page 73 - Supernova 4, Partikel
P. 73

“Ibu,” ucapnya. Mata Hara membundar panik.

          Aku  tak  lagi  menunggu  penjelasannya,  langsung  menerobos  masuk  ke  rumah.  Di
        halaman belakang, kulihat siluet Ibu yang berdiri di depan kobaran api. Ada sesuatu yang
        terbakar dari dalam gentong besi tempat sampah kami.

          “Seharian Ibu bongkar seisi rumah,” jelas Hara terbata. “Dan tadi, di kamar Kakak….”

          Refleks, kepalaku menoleh ke belakang. Ke arah pintu kamarku.

          Pintu  kamarku  sudah  terbuka.  Barang-barangku  berserakan  di  lantai.  Aku  menerjang

        masuk. Apa yang kulihat membekukan detak jantungku.

          Kasurku  sudah  terbalik.  Baju-baju  dari  lemariku  bertaburan  di  lantai.  Semua  laci
        terbuka.  Dus  tempatku  menyimpan  semua  berkas  dan  jurnal  Ayah  ada  di  tengah
        keporakporandaan itu. Kosong.

          Kekuatan dari tubuhku seperti disedot habis seketika. Kugapai pegangan pintu agar bisa
        terus berdiri. Api itu. Api itu!

          Aku berteriak kencang tanpa bisa kutahan. Sebuah kekuatan entah dari mana melesatkan
        tubuhku berlari ke halaman belakang. Kudorong gentong besi itu hingga jatuh ke tanah.

        Bau  asap  dan  minyak  tanah  meruap  ke  udara.  Tergulingnya  gentong  besi  tadi  ikut
        menjatuhkan  jeriken  minyak  tanah  yang  terparkir  di  sebelahnya.  Aku  tak  peduli.
        Perhatianku terpusat pada sampul jurnal-jurnal Ayah yang dilalap api.

          Kuinjak-injak api itu. Dan, kudengar lengkingan Hara dan jeritan Ibu, bercampur dengan
        suara teriakanku sendiri.

          Halaman belakang  kami  yang  mungil  hanya  berjarak  selebar  satu  kotak  keramik  dari
        pintu. Dari ekor mataku, tiba-tiba kulihat api menyambar kosen kayu pintu belakang. Dan,
        aku tersadar. Rumah kami dalam bahaya.


          Refleksku berikutnya adalah menyambar selang air. Kusirami api yang menjilati kosen
        pintu hingga padam. Api terus berkobar di halaman, dan selangku beralih arah. Tak ada
        lagi pilihan. Dengan hati remuk redam, kusiram sebaran api yang menjilati rumput dan
        menelan  jurnal-jurnal  Ayah.  Hara  dan  Ibu  sudah  datang  membantu  dengan  ember  dan
        gayung.

          Api padam. Berganti asap dan jelaga hitam di mana-mana. Kami bertiga berdiri dengan
        napas memburu.

          Kupandangi kertas-kertas yang sudah hancur oleh api dan air. Tak ada lagi yang tersisa.

        Satu-satunya kunci untuk menemukan Ayah telah musnah. Kesadaran itu merambat pelan-
        pelan, bagaikan bisa yang melemahkan tubuhku, dan pada puncaknya aku jatuh berlutut.
        Meraung dan menangis.

          Ibu dan Hara diam mematung. Tak berani mendekat.

          “I–ini demi kebaikanmu….” Terdengar suara Ibu yang gemetar.

          Sebagai jawaban, teriakanku lantang menyobek malam. Aku berteriak bagai hewan buas
        yang terluka.
   68   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78