Page 74 - Supernova 4, Partikel
P. 74

“Sadar kamu, Zarah! Buku-buku itu sesat!” jerit Ibu.

          Aku  berteriak  lagi,  dan  lagi,  dan  aku  berteriak  di  depan  wajah  Ibu.  Ia  meringkuk
        ketakutan.

          “Kakak, cukup,” Hara membisik parau.

          Kutelan teriakan yang sudah ingin meluncur dari tenggorokan. Bergegas pergi dari situ.
        Kusambar  sepedaku  di  teras,  kukayuh  dengan  segala  amarah,  segala  pedih.  Rasa
        percayaku  kepada  Ibu  musnah  bersama  jurnal  Ayah  yang  dibakarnya.  Dua  orang

        terpenting dalam hidupku, kedua orangtuaku sendiri, dengan cara dan waktu yang berbeda
        menghancurkanku sekali jadi.

          Entah  berapa  jam  aku  mengayuh  sepedaku  berkeliling  tanpa  tujuan.  Hingga  jalanan
        melengang, lampu rumah-rumah menggelap.

          Pada waktu yang kuduga sudah lewat tengah malam, sepedaku berhenti di pohon salam.
        Di kaki Bukit Jambul.

          Kupandangi julangan bebayang hitam di hadapanku.

          “Aku tidak takut lagi,” aku berkata. Entah kepada siapa.

                                                                                                             18.


        Hubunganku  dengan  Ibu  berubah  sejak  malam  itu.  Dengan  segala  perbedaan  kami,
        berdebat dan bertengkar adalah rutinitas yang sudah biasa kami jalani. Semua itu berhenti.
        Komunikasi  di  antara  kami  membeku.  Hara  adalah  satu-satunya  alasan  mengapa  aku
        masih bertahan di rumah. Kami semua tahu itu.

          Abah dan Umi juga menghentikan segala inspeksi mendadak mereka. Kini, mereka akan
        janjian terlebih dulu kalau ingin mampir ke rumah, memastikan aku sedang tidak ada.

          Aku  semakin  lihai  mencari  kegiatan  di  luar.  Pertama,  aku  menawarkan  diri  untuk
        mengajar bahasa Inggris setiap hari di tempat kursus. Kedua pihak diuntungkan karena
        mereka tak perlu merekrut banyak pengajar, dan aku bisa memperoleh honor ekstra. Anak-

        anak  sangat  suka  dengan  cara  mengajarku  yang  memakai  banyak  warna,  gambar,  dan
        pernak-pernik.  Beberapa  orangtua  memintaku  untuk  mengajar  privat  di  rumah  mereka.
        Kusambut tawaran-tawaran itu dengan senang hati.

          Kedua, aku menyiapkan diri keluar dari rumah. Selepas tiga bulan mengajar, aku punya
        cukup  tabungan  untuk  membeli  barang-barang  yang  menjadi  targetku  selama  ini:
        perlengkapan  berkemah.  Aku  membeli  tenda,  sleeping  bag,  hammock,  kompor  kecil,

        jaket, dan senter berkualitas baik. Kemudian aku menghadap Pak Ishak, memohon izin
        untuk  memiliki  fasilitas  loker  agar  bisa  menyimpan  semua  perlengkapan  mengajarku,
        termasuk  buku-buku.  Sebagai  pengajar  yang  paling  rajin  muncul,  dengan  mudah
        kudapatkan izin itu. Pak Ishak meminjamiku sebuah lemari berkunci di perpustakaan.

          Setelah semua persiapan kurasa cukup, aku lalu berbicara kepada Hara. Di luar dugaan,
        Hara sangat tenang menghadapi rencanaku keluar rumah.

          “Kakak jangan khawatir. Hara sudah bisa belajar sendiri.” Itulah hal pertama yang ia
   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79