Page 75 - Supernova 4, Partikel
P. 75

katakan.

          “Jangan pernah mengira Kakak ingin meninggalkan kamu, ya.”

          Hara mengangguk sambil tersenyum. “Biar Hara yang jaga Ibu,” ucapnya.

          Saat seperti inilah adik kecilku menunjukkan kedewasaan yang jauh melampaui usianya.
        Segala peristiwa yang keluarga kami lalui menempa Hara sedemikian rupa.

          “Kakak nggak takut sama Bukit Jambul, ya?”

          “Sekarang nggak. Dulu iya,” jawabku. “Dulu Kakak takut banget.”

          “Hara kepingin jadi pemberani kayak Kakak. Sekarang Hara masih takut. Ayah ada di

        sana ya, Kak? Di Bukit Jambul?”
          “Kakak nggak tahu. Tapi, Kakak akan selalu cari Ayah.”


          “Semalam Hara mimpi. Kakak bakal pergi jauh.”

          Aku  membelai  rambutnya.  “Kakak  cuma  di  Batu  Luhur.  Kamu  bisa  nengok  Kakak
        kapan saja. Kamu juga bisa datang ke tempat Kakak mengajar.”

          Hara  menghambur  mendekapku.  Apa  yang  ia  bilang  tentang  mimpinya  tahu-tahu
        mengusikku. Kupeluk adikku erat.

          “Kakak nggak akan pernah pergi jauh dari kamu, Hara,” kataku lagi. Upaya afirmasi.
        Karena, tiba-tiba saja muncul firasat bahwa adikku benar.





        Kepergianku dari rumah hanya ditandai secarik kertas yang kuletakkan di meja makan:
        Zarah di Batu Luhur. Tidak usah disusul.

          Belakangan kusadari, kalimat kedua itu tidak perlu. Memang tak ada yang menyusul.
        Orang-orang kampung juga tak mengusikku. Seolah mafhum atas apa yang terjadi, mereka
        membiarkanku menggelar sleeping bag di saung ladang Ayah tanpa bertanya. Peralatan
        berkemahku teronggok di sana setiap hari tak terganggu.

          Setiap pagi aku ikut mandi di pemandian umum. Membeli pisang goreng dan segelas teh

        manis di warung Mak Turi untuk sarapan. Dengan menggendong ransel di punggung, aku
        bersepeda ke tempat kursus. Muncul di sana seperti anak baru turun gunung. Satpam di
        tempat  kursus  sudah  maklum  melihatku  datang  sepagi  petugas  bersih-bersih.  Aku  lalu
        berganti baju, duduk di perpustakaan, menyiapkan bahan-bahan untuk mengajar seharian.
        Saat istirahat siang, aku tergeletak tidur di musala beralaskan sajadah.

          Meski hidup menggelandang, bersepeda lebih  dari  empat  puluh  kilometer  setiap  hari,
        tidur di saung bambu tak berdinding, untuk kali pertama setelah sekian lama kutemukan

        kedamaian. Ketenangan. Kebebasan.

          Aku pun bersiap untuk tujuanku berikutnya. Bukit Jambul.

                                                                                                             19.

        Pada satu Minggu, satu-satunya hari kosongku, aku berangkat ke Bukit Jambul. Dini hari,
   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80