Page 76 - Supernova 4, Partikel
P. 76

aku  berjalan  kaki  ke  sana  supaya  sepedaku  tak  mengundang  kecurigaan  warga. Langit
        masih  gelap,  hanya  kokok  ayam  sesekali  yang  memberi  petunjuk  bahwa  kegelapan  ini
        bukan lagi milik malam.

          Hasil dari berkali-kali mengitari kakinya, aku hafal mati di mana letak pohon puntadewa
        yang menjadi patokan jalan masuk. Kumasuki Bukit Jambul dengan badan terbungkus.

          Belukar rapat setinggi dagu menyambutku. Ranting-ranting tajamnya mulai tersangkut-

        sangkut di baju. Ketika  sudah  terasa  terlampau  rapat,  terpaksa  kukeluarkan  parang  dan
        menebas sedikit-sedikit.

          Entah  karena  tubuhku  yang  sudah  membesar  sejak  empat  tahun  lebih  lalu,  rasanya
        perjalanan menempuh lima puluh meter belukar neraka ini tidak sesusah dan selama dulu
        saat kali pertama kumasuki Bukit Jambul.

          Ketika tanah yang kuinjak tak lagi berisik dan penglihatanku melapang, aku tahu aku
        telah  tiba  dalam  perutnya.  Tanpa  dicekam  ketakutan  seperti  dulu,  dengan  tenang
        kusorotkan senterku ke sekeliling, mempelajari apa yang kulihat.


          Sinar  bulan  pucat  yang  masih  bertengger  di  langit  menembusi  pohon  dan  dedaunan,
        menciptakan siluet abstrak keperakan. Kumatikan senterku. Melebur dalam remang hutan.
        Segalanya terasa indah.

          Jalur  setapak  kecil  yang  dulu  kulalui  masih  terdeteksi  walau  sebagian  besar  sudah
        tertutup. Jalur itu membelah rapatnya hutan seperti seutas benang berkelok. Aku memilih
        untuk tidak tergesa, berjalan lambat sambil terus mempelajari isi perut Bukit Jambul.

          Tak terasa, langit di atas sana, yang hampir tak terlihat karena tertutup kanopi dedaunan,
        mulai menerang. Dalam hitungan menit, bahkan detik, wajah Bukit Jambul terus berubah.

        Mulai terlihat selimut lumut yang menutupi batang pepohonan tua dengan diameter rata-
        rata lebih dari lima puluh senti itu. Aku melihat tanaman-tanaman epifit mencuat dari sana
        sini,  pakis-pakis  raksasa  yang  menghampar  bagai  kipas  mekar,  anggrek-anggrek  hutan
        yang sebagian mulai berbunga. Dan ketika kulihat ke bawah, tampaklah piringan-piringan
        besar jamur Trametes versicolor yang tumbuh seperti trap tangga di kaki pohon.

          Belum kulihat cukup banyak hutan dalam hidupku, tapi aku yakin hutan primer di Bukit
        Jambul ini adalah satu yang terindah. Semakin dalam aku masuk, semakin aku terpukau.

        Bagaimana  batang  pepohonan  membentuk  barisan  seolah  acak  tapi  terasa  harmonis,
        bagaimana tetumbuhan di bawahnya tumbuh meliuk dan melekuk demi menggapai sinar
        matahari  yang  terbatas,  bagaimana  elevasi  tanahnya  menanjak  lembut  dan  bersahabat,
        membuatku  merasa  Bukit  Jambul  ditata  oleh  ahli  lanskap  dan  tukang  taman  jempolan.
        Seolah hutan ini diciptakan untuk menghibur dan mencengangkan pengunjungnya, yang

        ironisnya nyaris tak ada itu.
          Kor  tonggeret  mulai  membahana  dari  segala  penjuru,  mengiringi  langkahku  menaiki

        punggung Bukit Jambul. Aku tak merasakan hawa angker sama sekali. Seluruh hutan ini
        terasa ramah, bahkan melindungi.

          Udara mulai hangat. Aku membuka bungkusan baju, sarung tangan, kaus kaki panjang,
        menyisakan  hanya  kaus  oblong  dan  celana  khaki.  Dengan  menyandang  ransel,  aku
   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80   81