Page 77 - Supernova 4, Partikel
P. 77

berjalan  ringan  ke  puncak.  Bersepeda  puluhan  kilometer  per  hari  berhasil  membuat
        napasku terjaga baik. Aku sama sekali tidak kelelahan.

          Puncak  yang  berupa  tanah  lapang  bundar  itu  mulai  terlihat.  Dan,  begitu  aku  tiba  di
        tepiannya, kejadian empat tahun silam terulang.




        Seperti dulu, lututku melunglai begitu saja. Dadaku sesak. Sesuatu dalam atmosfer tempat

        itu menekan punggungku, menahanku dalam posisi tengkurap. Kalap, kulepaskan ransel
        dari  bahuku.  Berusaha  mengurangi  beban  yang  begitu  mengimpit,  tapi  sia-sia.  Aku
        berusaha  bangkit,  menegakkan  lutut-lututku,  tapi  dalam  waktu  singkat,  aku  kembali
        terkapar.

          Rasa takut merambat naik, dan aku mulai panik. Berbeda dengan dulu, kali ini kekuatan
        itu seperti benar-benar ingin melumpuhkanku. Berkali-kali aku mencoba merangkak maju,

        tapi sebelum tungkai-tungkaiku membuat gerakan berarti, aku kembali mencium tanah.

          Keringatku  mulai  membanjir.  Napasku  tersengal-sengal.  Putus  asa,  aku  pun  teriak
        meminta tolong. Tak peduli kepada siapa. Dan, darahku berdesir ketika aku sadar suaraku
        pun hilang. Aku menganga selebar mungkin, mengirimkan jeritan sekencang yang kubisa,
        dan tak ada suara yang keluar. Tempat apa ini? aku meratap dalam hati. Meminta tolong.
        Memohon.

          Mataku tiba-tiba menangkap sesuatu di arah kiri. Sekelompok jamur yang belum pernah

        kulihat sebelumnya. Tumbuh merumpun begitu saja di tanah.

          Entah karena aku yang sedang semaput sehingga penglihatanku terpengaruh, aku amat
        yakin  jejamuran  itu  bersinar.  Entah  dorongan  dari  mana  yang  menggerakkan  tanganku
        menggapai rumpun jamur tadi. Kurenggut dengan sisa tenaga yang ada hingga sebagian
        besar dari mereka tercabut. Kudekatkan genggamanku yang kini berisi beberapa kepala
        jamur dan, tanpa berpikir dua kali, aku memasukkannya ke mulut. Aku mengunyah, dan
        mengunyah. Rasanya seperti sedang memakan bantal gurih. Mirip daging ayam yang tak

        diberi garam.

          Dalam  keadaan  tengkurap  rata  dengan  tanah,  aku  terbaring  pasrah.  Tak  ada  lagi
        kekuatanku untuk melawan. Aku diam di tempat.

          Perspektifku akan waktu mulai goyah, tak bisa lagi kuukur berapa menit telah berlalu.
        Yang kurasa hanya… lama. Seiring dengan itu, ketakutan yang tadi mengunciku perlahan
        meluntur. Napasku mulai kembali normal.

          Pelan-pelan,  kembali  kurasakan  tenaga  di  badanku.  Beban  yang  tadi  mengimpit  telah
        sirna. Aku mulai bisa bergerak. Kubalikkan punggungku, menghadap langit. Dan tiba-tiba

        aku menyadari bahwa telah terjadi perubahan di alam sekelilingku.

          Langit yang kupandang menjadi bergelombang, bagai riak di kolam. Aku menoleh ke
        tanah,  mendapatkannya  juga  bergelombang  dan  seperti  bernapas.  Kuangkat  kepalaku,
        menghadap hutan, dan aku menyadari hutan itu memendarkan cahaya.

          Aku  mengamati  lebih  tajam.  Dedaunan  bergerak  bukan  karena  tertiup  angin.  Mereka
   72   73   74   75   76   77   78   79   80   81   82