Page 78 - Supernova 4, Partikel
P. 78

menggeliat. Batang pohon tampak mengembang mengempis halus. Dan, aku tercengang
        oleh  suara  burung  dan  tonggeret  yang  mulai  membubung  dalam  kesadaranku,  karena
        mereka seperti berkata-kata. Aku tak bisa memahaminya, tapi apa yang tadinya terdengar
        sekadar bebunyian, kini bagaikan bersahut-sahutan. Percakapan. Mereka berkomunikasi.
        Dan, hutan ini… hutan ini hidup.

          Setelah lama terkesima oleh pemandangan hutan, aku pun beralih ke atas. Ke arah langit.


          Sorot  matahari  ditumpulkan  oleh  kelompok  awan  yang  menutupinya.  Perlahan,  aku
        menyadari awan-awan itu pun bergerak tidak seperti biasanya. Mereka berdenyut. Yang
        lebih aneh lagi, aku mulai merasa ada ketersambungan yang tercipta antara aku dan awan.
        Tepatnya,  mereka  bergerak  sesuai  dengan  gerakan  batinku.  Ketika  napasku  melambat,
        denyut mereka ikut melambat. Saat kucepatkan irama napasku, denyut mereka bertambah
        cepat. Aku mencoba tersenyum, dan aku merasa awan ikut merekah.

          Detik itu, sebuah gelombang perasaan besar melandaku bagai air bah. Aku, hutan, dan

        awan bergerak dalam sebuah kesinambungan. Kami adalah satu. Batinku mulai gamang
        karena  rasanya  aku  tidak  lagi  merasakan  seseorang  bernama  Zarah.  Zarah  telah  lebur
        bersama  arus  ini.  Arus,  yang  entah  apa,  tapi  semua  kehilangan  identitas  di  dalamnya.
        Semua menjadi satu.

          Setelah  lama  terkesima  oleh  hutan  dan  langit,  perhatianku  beralih  ke  depan.  Ke  arah
        lapangan.

          Di tengah lapangan bundar itu, aku melihat sebuah pendaran sinar. Kukedipkan mataku
        berkali-kali, memastikan sinar itu memang betulan ada di sana. Setiap mataku membuka,

        pendaran  itu  terus  ada.  Kutajamkan  mataku.  Pendar  sinar  itu  ternyata  berbentuk
        kumparan. Ada pola lingkaran yang teratur dengan pusat di tengah-tengah. Aku mengira-
        ngira besar lingkaran itu selebar tampah beras.

          Tanpa  ragu,  aku  bangkit  untuk  mendekatinya.  Baru  selangkah  kakiku  maju,  aku
        langsung berhenti. Tenagaku tidak lagi disedot habis seperti sebelumnya, tapi aku masih
        terhuyung.  Dunia  seperti  miring  dan  berputar-putar,  dan  rasanya  aku  ingin  kembali
        berbaring. Maka, tiaraplah aku di atas perut. Memandangi kumparan itu.


          Keanehan  yang  sama  kembali  berulang.  Kumparan  itu  ternyata  berdenyut  sinkron
        dengan batinku. Ketika tanganku menggapai berusaha meraihnya, kumparan itu mendekat.
        Bagaikan tali karet yang elastis, jarak di antara kami memelar dan merapat. Kadang ia
        menjauh sedikit, mendekat lagi, amat dekat hingga terasa sudah di depan ujung jariku, lalu
        menjauh lagi.

          Dalam hati aku memohon, izinkan saya masuk.

          Tiba-tiba kudengar suara yang merespons secepat kilat, atau bahkan lebih cepat, karena
        aku merasa suara kami tumpang tindih. Suara itu muncul dari dalam batinku, tapi rasanya

        bukan aku. Dia berkata: cukup sampai di sini.

          Tak lama setelah kudengar suara itu, kumparan sinar tadi memudar. Seolah diisap masuk
        oleh udara, ia berangsur menghilang. Aku melihat ke langit. Denyut awan juga melambat.
        Tanah dan hutan tidak lagi bernapas.
   73   74   75   76   77   78   79   80   81   82   83