Page 79 - Supernova 4, Partikel
P. 79

Perlahan aku bangkit duduk. Berusaha mencerna apa yang terjadi. Untuk kali pertama
        aku melihat dunia yang berbeda. Dunia yang hidup dalam arti sebenar-benarnya. Tidak
        ada  benda  yang  “mati”.  Dalam  arus  tadi,  kami  semua  sejajar,  tidak  ada  yang  lebih
        istimewa daripada yang lain. Kami hidup dan berdenyut bersamaan. Jika selama ini Ayah
        selalu mengajarkan untuk hidup harmonis dengan alam, aku mengerti maksudnya, baru

        kali  inilah  aku  mengalaminya  secara  utuh.  Bukan  lagi  kata-kata.  Segenap  sel  tubuhku
        merasakannya.

          Kutebarkan  pandanganku  sekali  lagi,  merasakan  badanku  sendiri.  Segalanya  sudah
        normal.  Dan,  itu  membuatku  patah  hati.  Keajaiban  yang  barusan  kusaksikan  kini
        tersembunyi. Entah oleh apa.

          Aku pun teringat jamur yang tadi kurenggut. Beberapa masih tersisa di tanah, tak lebih
        dari tiga batang. Kuperhatikan mereka baik-baik. Siapa kamu? Kenapa bisa ada di sini?

          Sungguh belum pernah kulihat jamur seperti ini sebelumnya. Bentuknya sangat cantik.

        Tudungnya bulat berwarna merah cerah dengan bintik-bintik putih. Besarnya bervariasi.
        Yang  paling  besar  di  situ  kira-kira  setinggi  telapak  tangan.  Semakin  kecil  ukurannya,
        semakin merah warna tudungnya.

          Aku  berusaha  mengingat-ingat,  berapa  banyak  yang  kujejalkan  ke  mulutku  tadi.
        Sepertinya tak lebih dari empat tudung berukuran kecil. Kulihat sekeliling. Tak kutemukan
        lagi jamur sejenis dekat-dekat situ. Tebersit keinginan untuk tinggal lebih lama di puncak
        itu  untuk  melihat-lihat,  tapi  hatiku  menegaskan  cukup.  Kupetik  satu  batang  yang

        berukuran sedang, kumasukkan ke kantong.

          “Terima kasih,” bisikku.

          Rasa  haus  yang  menggigit  merenggut  atensiku.  Kutenggak  botol  berisi  air  minum
        sampai  tandas.  Iseng,  kurogoh  jam  tangan  yang  tersimpan  di  kantong  ransel,  dan
        terkejutlah aku. Setengah dua belas siang?

          Aku tiba di puncak tidak mungkin lewat dari pukul setengah tujuh pagi. Aku yakin itu.
        Jadi, bagaimana mungkin aku terkapar  selama  itu?  Sesaat  kemudian  aku  meragu.  Atau
        mungkin? Berarti telah terjadi distorsi besar-besaran atas persepsiku akan waktu.

          Aku bangkit berdiri dan mulai menuruni bukit. Sungguh awal yang misterius sekaligus

        menyenangkan dengan Bukit Jambul. Aku tak sabar untuk kembali.

          Sekelumit misteri Bukit Jambul telah berhasil kukantongi.




        Beberapa hari berikutnya kepalaku didominasi pengalaman pada Minggu di puncak Bukit
        Jambul.  Dalam  benakku,  aku  merekonstruksi  kejadian  itu  berulang-ulang.  Mengingat-
        ingat betapa magisnya bisa menyadari bahwa segala sesuatunya hidup. Segala sesuatunya

        satu. Dan, ketika kurunut satu demi satu mata rantai kejadian itu, kembali aku terpentok di
        jamur bertudung merah yang belum kuketahui identitasnya.

          Hara sudah kutugasi untuk membongkar ruang kerja Ayah, tapi sayangnya ensiklopedia
        fungi  dan  buku-buku  sejenisnya  sudah  terangkut  oleh  polisi.  Aku  sudah  mencoba
   74   75   76   77   78   79   80   81   82   83   84