Page 80 - Supernova 4, Partikel
P. 80

menghubungi  beberapa  dosen  di  IPB,  tapi  entah  pesanku  yang  tak  disampaikan,  atau
        mereka memang enggan menemuiku, tetap tak ada tanggapan.

          “Miss Zarah.” Suara anak perempuan mengusik. Mengingatkanku bahwa aku sedang
        berada di ruang kelas bersama murid-muridku.

          Muridku,  Mimi,  anak  berusia  sembilan  tahun,  menghampiri  sambil  membawa  buku
        cerita.  Teman-temannya  yang  lain  masih  asyik  membaca.  “I  finished  the  story,”  lapor

        Mimi, “but I don’t like the kurcaci.”

          “Dwarf,” aku mengoreksi.

          Mimi menggeleng. “Not ‘dwarf’, Miss.” Ia lalu menunjuk satu kata dalam teks cerita
        yang ia maksud. “I don’t know how to say this.”

          Aku membaca kata yang ditunjuknya. Gnome.

          “How to say it?” desak Mimi.

          “It’s like ‘nowm’. Silent ‘g’,” jelasku.

          “I don’t like gnome,” tandas Mimi.

          Aku  ingin  kembali  ke  lamunanku,  tapi  Mimi  adalah  anak  yang  harus  terus  diladeni
        sampai puas baru bisa diam. “Would you like to tell me why?” tanyaku sambil menghela

        napas.
          “Because gnome is…,” Mimi berpikir, “pelit.”


          “Stingy?” ulangku. “He doesn’t want to share?”

          Mimi mengangguk. “Fairies cannot come to his house.”

          “I see,” aku tersenyum. “Well, maybe because his house is small.”

          “No, Miss,” Mimi menggeleng tak setuju. “It’s big.” Tangannya menunjuk-nunjuk ke
        gambar.

          “Yes, you’re right,” aku tertawa kecil. “It’s a big mushroom house.”

          “Gnome is stingy,” tegas Mimi lagi. “I don’t want to be his friend.”

          “OK. Now, can you find another book to read, please?”

          Mimi mengangguk dan menutup buku itu. Meninggalkanku sendiri lagi. Akhirnya.

          Anak-anak kembali membaca, dan aku kembali berpikir ke mana harus mencari tahu.
        Mungkin aku langsung saja datang ke IPB, cari cara sendiri untuk bisa ke perpustakaan,
        atau mencegat dosen-dosen teman Ayah di parkiran, atau….


          “Mimi,” panggilku, “May I see that gnome again?”

          Mimi datang lagi membawa bukunya. Cepat, kusibak halaman yang berisikan gambar
        rumah kurcaci tadi.

          Tidak salah lagi. Napasku tercekat. Menyadari bahwa apa yang kucari ternyata adalah
        objek yang sudah sering sekali kulihat. Hampir semua jamur dalam ilustrasi dongeng di
   75   76   77   78   79   80   81   82   83   84   85