Page 81 - Supernova 4, Partikel
P. 81

buku anak yang pernah kutemui digambarkan demikian.

          Rumah kurcaci itu adalah jamur bertudung merah dengan bintik-bintik putih.

                                                                                                             20.

        Sepulang  dari  tempat  kursus,  kusiapkan  lagi  peralatanku  ke  dalam  ransel.  Seminggu
        berlalu setelah petualanganku ke Bukit Jambul. Minggu besok dini hari, aku berencana
        kembali mendaki.

          Tiba-tiba aku dikagetkan oleh kedatangan Hara di saung. Membawa sepeda Ibu, adikku

        datang dengan ekspresi misterius.

          “Kakak, Ibu mau ketemu,” katanya. “Ada barang di rumah untuk Kakak.”

          Sudah berbulan-bulan aku tak bertemu Ibu. Masih kurasakan tebalnya lapisan enggan
        jika membayangkan menginjakkan kaki ke rumah.

          “Barang apa?”

          “Hara nggak tahu. Pokoknya, Kakak harus ke rumah.”

          “Nggak bisa kamu antar ke sini saja?”

          “Kata Ibu, jangan.”

          Dengan berat, aku menyambar sepedaku. Berdua kami bersepeda beriringan ke rumah.

          Begitu tiba, Ibu langsung membukakan pintu. Tanpa suara, ia berjalan ke ruang makan.
        Di sana, tampak meja makan kami sudah berhiaskan makan malam lengkap dengan tiga
        piring. Ibu menuangkan teh hangat ke tiga gelas yang sudah disiapkannya.


          “Assalamualaikum,  Bu,”  sapaku.  Kulihat  Ibu  sejenak  berhenti  menuangkan  teh  dan
        seperti  ingin  menyodorkan  tangannya.  Rikuh,  aku  membungkuk,  meraih  telapak
        tangannya dan menyentuhkannya ke dahiku. Sebagaimana yang selalu kulakukan tiap kali
        berangkat dan pulang ke rumah ini. Refleks yang ternyata masih kami berdua pelihara.

          “Waalaikumsalam,” balasnya pelan. “Ayo, kita makan dulu.”

          Kami bertiga duduk di posisi biasa yang telah kami jalani. Ibu di kepala meja sementara
        aku dan Hara berhadapan di sisi kiri dan kanannya. Kulihat Ibu dan Hara mengucap doa.
        Untunglah aku sempat menahan diri tidak langsung menyambar makanan.


          Di hadapan kami tersedia ikan kembung goreng masak sambal, sayur bayam dimasak
        bening  bersama  potongan  jagung,  dan  setumpuk  tahu  goreng  yang  masih  hangat.  Ada
        sepiring  kecil  kue  lapis  cokelat-pandan.  Aku  mengenali  kombinasi  menu  itu  dengan
        sangat baik. Semuanya adalah makanan kesukaanku.

          Tak bisa kusembunyikan lapar dan kangenku pada makanan-makanan itu. Aku makan
        dengan tempo dua kali lipat lebih cepat dibanding Hara dan Ibu, sudah menambah dua kali
        sementara porsi pertama mereka saja belum habis.

          Makan malam kami steril dari segala obrolan hingga potongan kue lapis terakhir ludes

        kusikat.
   76   77   78   79   80   81   82   83   84   85   86