Page 82 - Supernova 4, Partikel
P. 82

Ibu membuka percakapan lebih dulu. “Bagaimana di tempat kursus? Betah mengajar?”

          Aku,  yang  sedang  menenggak  teh  hangatku,  cukup  tersentak  dengan  pertanyaan  itu.
        Baru terpikir ibuku pasti sudah lama tahu dari Hara. Ketika mau kujawab, yang keluar dari
        mulutku adalah bunyi serdawa. Keras dan panjang.

          Sontak,  Hara  terbahak.  Aku  tak  tahan  untuk  tidak  ikut  tertawa.  Ibu  pun  tak  bisa
        menyembunyikan senyum kecilnya. Untungnya, kami berdarah Arab. Abah paling senang

        jika kami serdawa setelah makan di rumahnya. Baginya, itu adalah pujian bagi masakan
        Umi.  Abah  bilang,  demi  sopan  santun  kepada  tuan  rumah,  selalulah  serdawa  sehabis
        makan. Baru setelah besar aku tahu, peraturan itu tidak berlaku di semua rumah.

          Gas  dari  perutku  ternyata  sanggup  mencairkan  suasana  kaku  di  meja  makan.  Kami
        bertiga jadi lebih relaks.

          “Betah, Bu,” jawabku. “Zarah mengajar tiap hari. Yang privat ada tiga.”

          “Sibuk kamu sekarang, ya,” gumam Ibu. Tidak jelas itu pertanyaan atau pernyataan.

          Aku menanggapinya dengan anggukan kecil.

          “Kamu bisa tinggal di rumah Batu Luhur. Nggak perlu tidur di saung lagi,” kata Ibu.

          Tawaran  itu  betulan  mengagetkanku.  Cepat,  aku  menggeleng.  “Jangan,  Bu.  Itu,  kan,
        tempatnya Abah—”


          “Rumah itu sudah lama diwariskan ke Ibu,” potongnya. “Siapa yang bisa tinggal di sana
        adalah hak Ibu untuk menentukan.”

          “Zarah pikir-pikir dulu, Bu,” ucapku pelan.

          “Sebentar,” Ibu bangkit berdiri. “Ada yang harus Ibu kasih untukmu.”

          Setelah  sejenak  menghilang  masuk  kamar,  Ibu  datang  lagi  membawa  sebuah  dus  dan
        sebuah kantong kertas.

          “Ini. Untukmu. Ada yang kirim kemari.”

          Aku menerimanya dan langsung membelalak ketika menyadari benda berat apa yang ada
        di  tanganku  itu.  Kamera.  Bermerek  Nikon.  Ada  tulisan:  FM2/T.  Dari  dus  luarnya,  aku

        langsung tahu itu bukan barang baru. Ketika dibuka, tampaklah sebuah boks kayu licin
        mengilap. Isinya adalah kamera yang benar-benar mulus seperti baru. Bodinya berwarna
        hitam dengan aksen emas pucat. Mentereng. Terukir tulisan FM2/T bersebelahan dengan
        gambar kepala serigala.

          “Ini, ada yang lain-lainnya lagi,” kata Ibu, menyerahkan kantong kertas.

          Aku melongok melihat isinya. Ada tas kamera, tali bertulisan Nikon, dan satu dus berisi
        lensa.

          “I–ini semua dari mana, Bu?” tanyaku bingung.

          “Ibu nggak tahu, Zarah. Barang-barang itu sampai di sini kemarin lusa, dikirim kurir.”


          “Tapi, harusnya bisa ditanya namanya dong, Bu?”
   77   78   79   80   81   82   83   84   85   86   87