Page 83 - Supernova 4, Partikel
P. 83

Ibu menggeleng. Ia melirik Hara. Aku ikutan melihat ke adikku. Dan, kelihatanlah air
        muka Hara yang panik.

          “Maaf, Kak. Waktu itu Hara yang terima. Orangnya cuma bilang, ada kiriman untuk Kak
        Zarah.”

          “Dan, nggak ada nama pengirimnya, alamatnya?”

          “Hara nggak ngerti,” kata Hara takut-takut. “Kata orangnya memang nggak ada identitas
        pengirim.”


          Aku berdecak gemas. “Ini bukan barang sembarangan, Hara. Yang ngirim pasti punya
        maksud dan tujuan yang jelas.”

          “Hara, kan, nggak tahu isinya apa, Kak. Jadi Hara terima saja,” sahut Hara memelas.

          Aku  terdiam.  Percuma  mendesak  Hara  atau  Ibu.  Ada  seseorang  di  luar  sana  yang
        menginginkanku menjadi pemilik kamera ini. Itu saja yang bisa dipastikan.

          Hara  permisi  ke  kamarnya  dan  kembali  lagi  menggenggam  gumpalan  kertas  dan
        selembar resi.

          “Ini,  resi  dan  bekas  pembungkusnya.  Mungkin  Kak  Zarah  bisa  cari  tahu.  Hara  sudah
        bolak-balik bungkus itu, memang nggak ada keterangan pengirimnya.”


          Aku menerimanya dengan helaan napas berat. Satu lagi teka-teki.
          “Ibu  nggak  ngerti  soal  kamera,  tapi  Ibu  yakin  itu  barang  mahal,  jadi  kamu  jangan

        sembarangan  simpan,”  cetus  Ibu.  “Mulai  malam  ini  kamu  pindah  saja  ke  rumah  Batu
        Luhur.” Ibu menggeser sebuah anak kunci ke hadapanku.

          Sebagian  dari  diriku  merasa  enggan,  tapi  aku  tahu  Ibu  benar.  Kuraih  anak  kunci  itu.
        Menyisipkannya ke dalam kantong.

          “Makasih, Bu,” gumamku.

          Ibu mengangguk sekilas. “Ibu mau pergi pengajian dulu. Hara jaga rumah, ya. Zarah,
        kamu jangan pulang terlalu malam.”

          Aku  menyadari  kecanggungan  dalam  suara  Ibu.  Anaknya  punya  tempat  lain  untuk

        “pulang”.

          Di  teras  depan,  saat  aku  sudah  siap  duduk  di  sadel  sepedaku,  Ibu  keluar  dengan
        kerudung biru mudanya. Entah sudah berapa kali dalam hidupku, aku dibuat terpana oleh
        kecantikan  ibuku  sendiri.  Rambutnya  yang  hitam  legam  terurai  dari  sebelah  bahunya,
        matanya  yang  besar  tampak  berkilau  dibingkai  sepasang  alisnya  yang  lebat,  kulitnya
        bersih  dan  cemerlang  tanpa  pulasan  make-up.  Rumitnya  kehidupan  keluarga  kami
        mungkin  sering  meredupkan  sinar  bahagianya,  tapi  tak  pernah  menyurutkan

        kecantikannya.

          “Ibu duluan,” ujarnya. “Baik-baik di rumah, Hara. Hati-hati di jalan, Zarah.”

          Kuparkirkan  lagi  sepedaku  untuk  mencium  punggung  tangannya.  Bergantian  dengan
        Hara.
   78   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88