Page 84 - Supernova 4, Partikel
P. 84

Sembari  menggumamkan  bismillah,  Ibu  menaiki  sepedanya,  “Assalamualaikum,”
        pamitnya.

          “Waalaikumsalam,” jawabku dan Hara berbarengan.

          Sembari mengayuh, Ibu sempat melirikku dan berkata selewat, “Selamat ulang tahun.”

          Aku bengong di tempat.

          Hara  melonjak.  “Masya  Allah.  Kak  Zarah  ulang  tahun  hari  ini,  ya?”  serunya.  Ia  pun
        menghambur mendekapku.

          Kupandangi  Ibu  yang  pergi  menjauh,  Hara  yang  semringah  dalam  rangkulanku,  dan

        tersadarlah aku. Ayah ada di sini. Ikut merayakan ulang tahunku bersama kami. Ia hadir
        dalam bentuk sebuah kamera. Bukti dari janji yang berhasil ia tepati.

                                                                                                             21.

        Pendakian  ke  Bukit  Jambul  terpaksa  kubatalkan.  Aku  punya  agenda  lain  yang  lebih
        mendesak.

          Alih-alih bersepeda ke arah hutan, pada Minggu itu aku justru bersepeda menuju jantung
        Kota  Bogor.  Tepatnya,  menuju  Kebun  Raya.  Hari  Minggu  begini,  Kebun  Raya  adalah
        tempat  yang  paling  kuhindari  karena  tidak  tahan  hiruk-pikuk  orang  yang  datang
        membeludak ke sana. Namun, aku tak punya pilihan. Dialah satu-satunya orang yang bisa

        kumintai tolong dalam hal ini. Dan, menemuinya di Kebun Raya adalah satu-satunya cara
        yang kutahu untuk bisa menemukannya. Semoga saja tempat mangkalnya belum berubah.

          Aku langsung bersepeda menyusuri rute ketiga Kebun Raya, menuju Jembatan Merah.

          Doaku  terkabul.  Di  sana,  tampaklah  seorang  bapak-bapak  kurus,  usianya  lebih  tua
        daripada  Ayah,  rambutnya  tersemir  rapi.  Dengan  celana  kain  cokelat  dan  kemeja  krem
        yang  dimasukkan,  sebatang  sisir  putih  tampak  mencuat  dari  kantong  belakangnya.

        Jemarinya semarak oleh tiga cincin batu akik. Ia sedang memotret sepasang laki-laki dan
        perempuan yang berpose mesra di tengah jembatan.

          “Ditunggu sebentar, ya.” Terdengar logat Jawanya yang medok.

          “Pak Kas!” panggilku.

          Sambil  mengipasi  lembaran  film  instan  yang  dimuntahkan  kamera  Polaroid-nya,  Pak
        Kas berseri menghampiriku. “Zarah. Apa kabar kamu, Nduk?”

          Pak Kas adalah satu-satunya manusia di Bumi ini yang memanggilku “Nduk”. Aku dan
        Ayah telah berkawan lama dengan  Pak  Kas,  bernama  panjang  Kastunut,  nama  keramat
        yang diberikan oleh Sri Sultan, demikian Pak Kas pernah bercerita tentang namanya yang
        unik. Satu gigi taringnya diganti gigi palsu berwarna emas. Aku masih ingat bagaimana

        dulu aku menanti-nanti saat Pak Kas tertawa supaya bisa mengintip gigi yang menurutku
        spektakuler itu.

          Pak Kas sudah lebih dari dua puluh tahun mencari nafkah dengan menjadi tukang foto
        keliling. Kamera Polaroid bekas yang pernah dihadiahkan kepadaku itu dibeli Ayah dari
        Pak Kas.
   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88   89