Page 85 - Supernova 4, Partikel
P. 85

Ayah amat senang berkawan dengan Pak Kas. Padahal, jarang-jarang Ayah menyukai
        kehadiran  sesama  manusia.  Setiap  Ayah  mengajakku  ke  Kebun  Raya,  ia  selalu
        menyempatkan  diri  mencari  Pak  Kas.  Ayah  mentraktirnya  makan  atau  sekadar  minum
        kopi. Ayah bilang, Pak Kas adalah pendengar yang baik.

          “Sekarang ini, sulit mencari orang yang benar-benar mau mendengar,” kata Ayah dulu.
        “Pak Kas itu mendengar dengan sepenuh hati.”


          Aku  bertanya,  “Bisa  tahu  bedanya  yang  mendengar  sepenuh  hati  dan  nggak,  gimana
        caranya, Yah?”

          “Kalau  lawan  bicaramu  mendengar  dengan  sepenuh  hati,  beban  pikiranmu  menjadi
        ringan. Kalau kamu malah tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius
        mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu,” jawab Ayah.

          Aku  belum  cukup  lama  menghabiskan  waktu  berdua  dengan  Pak  Kas  untuk  menguji
        teori  itu.  Sekarang  pun  aku  menemuinya  bukan  untuk  didengar,  melainkan  diberi
        pengarahan.  Aku  ingin  belajar  memotret.  Dan,  Pak  Kas  adalah  satu-satunya  fotografer

        yang kutahu.

          Setelah  menjelaskan  maksud  dan  tujuanku,  aku  mengeluarkan  kamera  baruku  dari
        ransel.

          Pak Kas memegangnya sambil menganga. “I–ini kamera luar biasa bagus!” serunya.

          “Pak Kas pernah pakai kamera seperti ini, kan?” tanyaku.

          “Dulu, waktu masih kerja di studio. Tapi, ndak sebagus ini.”

          “Jadi, Bapak bisa ajari saya?”

          Dia tersenyum lebar, memperlihatkan taring emasnya. “Ya, sebisanya. Ilmu saya pas-
        pasan, Nduk.”

          “Ilmu saya nol, Pak,” balasku.


          “Cocoklah  kita.”  Pak  Kas  terkekeh  lalu  menyalakan  sebatang  kereteknya.  “Ayo,  kita
        mulai.”

          Aku bangkit penuh semangat.

          “Sekarang, kamu naik sepedamu dulu.” Pak Kas menepuk bahuku. “Terus, kamu cari
        tempat yang jual film. Beli beberapa. Mana bisa motret tanpa film? Saya tunggu di sini.”

          Pelajaran pertamaku.




        Seharian itu, aku membuntuti Pak Kas ke mana-mana seperti aku membuntuti Ayah dulu.

        Setiap ada waktu luang saat ia tidak memotret, itulah waktuku belajar.
          Pak Kas bercerita tentang cahaya. Bagaimana memotret itu sesungguhnya adalah ilmu

        tentang  cahaya,  tepatnya  pencahayaan.  Jika  seseorang  menguasai  pencahayaan,  ia  akan
        menguasai fotografi.
   80   81   82   83   84   85   86   87   88   89   90