Page 86 - Supernova 4, Partikel
P. 86

“Kamu  harus  peka  lihat  arah  cahaya  itu  ke  mana  dan  bagaimana.  Jangan  jidat  orang
        kamu tegak luruskan dengan sinar matahari, nanti mukanya belang-belang. Jangan orang
        suruh menentang matahari, nanti matanya nyureng. Jelek. Kalau matahari sudah terlampau
        tinggi  dan  kuat,  cari  tempat  yang  agak  teduh  biar  fotomu  ndak  terlampau  kontras.
        Bagusan, ya, matahari jam segini. Sore-sore atau pagi-pagi, atau waktu langit berawan.”

          Kemudian, Pak Kas bercerita tentang komposisi.


          “Di sini, tukang foto Polaroid ndak cuma satu. Ada banyak. Tapi, kamu boleh adu, mana
        fotonya yang paling enak dilihat, pasti hasil fotoku,” ia terkekeh, gigi emasnya berkilau.
        “Orang tuh banyak yang  ndak ngerti, kalau motret haruuus… saja objeknya di tengah-
        tengah. Padahal itu ndak bagus. Mata kita ndak suka lihatnya. Kamu harus geser sedikit.
        Ini, bandingkan.” Ia lalu memotretku tanpa aba-aba. Dua kali.

          Dua lembar foto Polaroid itu lalu kami pelajari. “Nah, yang ini yang umum dilakukan
        orang-orang. Aku bikin kamu di tengah-tengah. Bandingkan dengan yang ini,” katanya

        sambil menunjuk foto kedua. “Kamu ndak  di  tengah,  tapi  kira-kira  di  sepertiga  bidang
        foto. Lebih bagus, kan? Itu karena mata kita secara alami menyukai komposisi sepertiga
        begini.”

          Di  kesempatan  lain  ia  bercerita  tentang  ilmu  dasar  menguasai  kamera.  Dengan
        menggunakan sebatang ranting, ia gambarlah segitiga di atas tanah.

          “Hasil fotomu itu ditentukan oleh tiga hal ini, Nduk.” Ia menunjuk segitiganya. “ASA
        film, diafragma, dan kecepatan rana. Hasil keseimbangan tiga hal ini namanya exposure.
        Kalau tiga hal tadi pas, exposure-mu seimbang. Fotonya pasti bagus dan jelas. Kadang

        orang  sengaja  pengin  lebih  terang,  berarti  buatlah  proporsi  segitiga  yang  menghasilkan
        exposure yang tinggi. Kadang orang sengaja cari hasil foto yang gelap remang-remang,
        ya,  buatlah  proporsi  yang  menghasilkan  exposure  rendah.  Tiga  inilah  yang  bisa  kamu
        mainkan. Kalau fotonya terlampau terang atau terlampau gelap? Berarti ada yang salah di
        ketiga hal ini.”

          Pak  Kas  kemudian  menjelaskan  tentang  ruang  tajam  foto.  “Kalau  kamera  Polaroid
        begini  hasilnya,  ya,  rata  saja.  Tapi  dengan  kameramu,  kamu  bisa  punya  ruang  tajam.

        Tergantung  jenis  lensa  yang  kamu  pakai.  Punyamu  itu  50  milimeter  f/1.4,  berarti
        maksimal kamu bisa setel diafragma kameramu di 1.4. Itu bagus. Makin kecil angka f-nya,
        kamu bisa motret di tempat yang kurang cahaya. Dan, kamu punya ruang tajam yang lebih
        leluasa.”

          “Maksudnya ‘ruang tajam’ itu apa, Pak?”

          “Ini, lho, anu, waduh, gimana jelaskannya, ya?” Pak Kas kebingungan sendiri, ia lalu

        berjongkok  di  depan  semak  kembang  sepatu  kuning.  “Jadi,  misalnya  aku  mau  motret
        bunga kuning ini, nah, yang kelihatan jelas bunga satu ini saja, yang belakangnya kabur-
        kabur  butek,  begitu.  Itu  artinya,  lensa  yang  kamu  pakai  sanggup  mengejar  fokus  yang
        tipis. Objek kamu jadi seolah-olah nongol sendiri. Kalau semua objek jelas, itu sebaliknya.
        Ruang tajamnya tebal, makanya fokusnya jadi rata. Ya kembang, ya daun, ya pohon di
        belakangnya, sama-sama jelas.”
   81   82   83   84   85   86   87   88   89   90   91